Dalam sejarah dakwah Islam kita memiliki pengalaman sejarah panjang dan penuh hikmah bagaimana agama ini meraih kemenangan, baik dari segi peradaban maupun transformasi keummatan. Demikian juga pada beberapa masa akhirnya juga mengalami krisis, konflik hingga perpecahan yang menghasilkan kekalahan. Dari segi kemenangan agama Islam mengalami proses perjuangan yang tidak mudah. Belum lagi kalau kita runut dari mulai proses kelahiran nabi Muhammad SAW hingga masa dakwahnya. Kemenangan yang diraih hingga diabadikan dalam banyak surat di dalam Al-Qur’an.

Seperti yang telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal (8) ayat 45-47 yang berbunyi:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا۟ وَاذْكُرُوا۟ اللَّـهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
وَأَطِيعُوا۟ اللَّـهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الصّٰبِرِينَ
وَلَا تَكُونُوا۟ كَالَّذِينَ خَرَجُوا۟ مِن دِيٰرِهِم بَطَرًا وَرِئَآءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan”.

Surat Al-Anfal sebagaimana diketahui turun berkaitan dengan peristiwa perang badar yang terjadi pada tahun 2 H. Peperangan ini merupakan rangkaian sejarah yang menentukan perkembangan Islam. Sejarah ini menjadi begitu terasa kekuatan magisnya karena waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup. Melihat ke ayat di atas yang kalimat pembukanya ditujukan kepada kaum mukminin yang apabila berjumpa dengan satu kelompok yakni kelompok kaum musyrikin dalam perang. Dalam aspek lain saya ingin menarik konteks ini pada kelompok-kelompok non-peperangan. Artinya jika kita menjumpai kelompok apa saja yang bertentangan dengan agama, hati, nurani, akal sehat, dan sebagainya.

Dalam cakupan yang lebih luas kalau kita ingin menang menghadapi serangan kelompok pembenci, penyebar fitnah, kezhaliman, kemalasan yang menghambat kesuksesan atau kita ingin menang dalam segala hal maka Allah membimbing kita ada 6 unsur yang disebut dalam ayat tersebut. Ummat muslim di Indonesia secara kwantitas memang mayoritas namun secara kwalitas sebagian sendi kehidupan menjadi minoritas. Contoh saat ini dalam hal ekonomi, politik kita bisa dibilang minoritas. Tantangan itu semakin nyata ditambah era ini kita memasuki era kebebasan yang hampir tiada batas.

Keenam unsur itu yang pertama, Ats-Tsabat (teguh pendirian- فَاثْبُتُوا۟ ) dalam Bahasa lain, istiqomah. Teguh pendirian, tidak mundur terhadap ancaman-ancaman dan tidak terbujuk dengan macam-macam rayuan. Mungkin kita akan mudah menghadapi ancaman yang ada tapi belum tentu mudah dalam menghadapi bujuk rayuan. Nabi Muhammad SAW. dalam dakwahnya tidak mundur dengan ancaman, sampai dibujuk dengan kaum kafir Quraisy dengan rayuan kesenangan, materi, harta, kekuasaan, wanita, dan lain-lain namun beliau tetap teguh pada perjuangan menyebarkan ajaran Islam. Begitu beliau ditawari rayuan kesenangan-kesenangan oleh pamannya sendiri dengan tujuan agar menghentikan tugas kerasulan beliau menjawab:
يا عم ، والله لو وضعوا الشمس في يميني ، والقمر في يساري على أن أترك هذا الأمر حتى يظهره الله ، أو أهلك فيه ، ما تركته
(wahai pamanku, demi Allah walaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah) sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, aku tidak akan meninggalkannya).

Kedua, Dzikrullah (mengingat Allah) dengan hati, lisan dan perbuatan. Dalam hadits nabi dikatakan ada 7 golongan yang mendapatkan naungan di hari akhirat dimana tidak ada naungan kecuali dari Allah, salah satunya adalah “dzakarullah khooliyan fa faadhot ‘ainaah” (org yg menangis dalam kesendirian dan bercucuranlah air matanya). Maka dalam perjuangan hendaknya kita juga senantiasa berdzikir bukan hanya teriakan-teriakan tapi hati dan perbuatan kita juga sesuai dengan dzikrullah.

Ketiga, taat kepada Allah dan Rasul. Taat kepada Rasul sama dengan taat kepada Allah. Kita harus taat dalam hal yang kita suka dan dalam hal yang kita tidak suka (fiima nuhibbuh wa nakrohu). Meskipun ketidak sukaan kita adalah kesukaan bagi orang lain tapi kalau Allah dan rasul-Nya melarang kita terhadap kesukaan itu maka kita harus mentaati-Nya.

Keempat, jangan berbantah-bantah. Bahkan di ayat lanjutannya disebut akibatnya jika kita berbantah-bantah maka akan gagal dan akan kehilangan kwibawaan (وَلَا تَنٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ). Kalau seperti itu yang terjadi maka ummat Islam tidak lagi diperhitungkan dan akan terpecah karena terlalu sibuk berbantah-bantah dalam hal yang bisa memecah ummat.

Kelima, sabar. Sebagaimana Allah berfirman: وَاصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الصّٰبِرِين . Satu hal yang perlu kita sadari bahwa perjuangan itu tidak instan. Perjuangan itu membutuhkan proses. Namun yakinlah bahwa proses itu tidak pernah mengkhianati hasil. Tidak mungkin sekarang dimulai sekarang juga langsung berhasil. Maka kesabaran menentukan hasil perjuangan dan kemenangan. Sabar dalam menghadapi musibah, cobaan, masalah. Sabar dalam beribadah juga dalam menghadapi tantangan-tantangan. Hidup pastilah dipenuhi dengan berbagai cobaan dan ujian, bahkan kepada orang beriman. Sebagaimana Allah berfirman: أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
(Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan; “Kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji?).

Keenam, ikhlas. Indikator unsur keikhlasan dalam meraih kemenangan disebut dalam ayat:
وَلَا تَكُونُوا۟ كَالَّذِينَ خَرَجُوا۟ مِن دِيٰرِهِم بَطَرًا وَرِئَآءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيط
(Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan).

Dalam kata lain, niatnya bukan karena Allah. Dalam berjuang hendaknya luruskan niat agar jangan sampai tergelincir ke dalam kesombongan. Terkadang kita terpancing seperti itu, bukan karena mencari ridho Allah justeru mencari penilaian manusia, agar dia tahu siapa kita, agar orang-orang tahu kemenangan kita. Tujuan utama dalam perjuangan adalah agar Allah meridhoi kita. Ketika Allah sudah ridho maka kemenangan dalam bentuk apapun insya Allah akan diraih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *