milad ikamasi dari masa ke masaIkatan Keluarga Mahasiswa Bekasi (IKAMASI)-Yogyakarta sudah memasuki usia yang bisa dikatakan remaja. Sejak berdirinya pada tanggal 26 Mei 2002 yang sebelumnya bernama IKASI (Ikatan Keluarga Bekasi) karena kevakuman yang cukup panjang, IKAMASI terus merapatkan barisan, mensolidkan ikatan (kultural maupun emosional) serta berbuat (read: berkarya) untuk daerah Bekasi tercinta sesuai taggline “Solid Di Perantoan Berkarya Demi Bekasi”. Banyak sudah yang kita torehkan di Yogyakarta dari teman-teman mahasiswa Bekasi yang merantau untuk menuntut ilmu di Kota Gudeg tersebut. Dari mulai apresiasi seni budaya, intelektual, minat bakat, hingga audiensi dengan beberapa pejabat guna menyampaikan ide-ide demi kemajuan Bekasi.

Milad XI kali ini mengingatkan saya ketika menjabat sebagai Ketua Umum (Ketum) periode 2008-2009. Dimana pada tahun 2008 (Milad VI) dan 2009 (Milad VII) kami laksanakan di halaman Sekretariat IKAMASI di Komplek POLRI Gowok Blok C2 No.98 Caturtunggal Sleman. Hal tersebut pada waktu itu kami inisiasikan sebagai pemantik sense of belonging untuk lebih menjaga dan memelihara sekretariat tercinta yang telah dihibahkan oleh Pemda Kabupaten Bekasi sejak tahun 2004. Seiring perjalanannya, alhamdulillah kami pun mendapat bantuan untuk renovasi pasca gempa pada beberapa periode kepengurusan serta bantuan lainnya baik dari Pemda Kota maupun Kabupaten. Pada Milad XI 2013 kali ini juga dilaksanakan di sekretariat IKAMASI dimana sebelumnya diadakan rangkaian lomba baik internal kalangan anggota IKAMASI dan juga lomba eksternal untuk anak-anak warga komplek POLRI Gowok.

Alhamdulillah pada acara milad XI ini saya bisa hadir mewakili teman-teman Forum Alumni (FA) IKAMASI yang berada di Bekasi ada juga beberapa alumni yang menetap di Jogja. Setelah mendarat di Jogja saya langsung dijemput oleh kawan alumni pondok yang masih menetap di Jogja. Sambil menunggu dijemput di Wirobrajan saya mengingat beberapa memory dimana dulu pertama kali tiba di Jogja untuk kuliah saya dan teman-teman sealumni pondok tinggal (ngontrak) di bilangan Wirobrajan. Dari berangkat kuliah menggunakan bis kampus seharga 200 rupiah sampai dengan jalan kaki kalo ke malioboro, maklum karena di Jogja kalo udah lewat maghrib nggak ada angkutan umum apalagi angkot, jadi yang nggak punya kendaraan pribadi cukuplah jalan kaki sambil olahraga malam. Semuanya masih teringat jelas di dalam ingatan saya. Oohh,, such a lovely place-lah kalo kata Eagles mah.. eh, disaat mengenang masa lalu tak lama datanglah kawan saya yang akrab disapa Achoy dengan tunggangan anyarnya new Mega Pro, kemudian singgah di tempatnya sekitar daerah Bugisan.

Sabtu Sore (25/05/13) saya bertolak ke Krapyak untuk menjenguk adik bontot yang sedang mondok di Pesantren Ali Maksum sambil mengantarkan bekal jajanan. Kangen juga rasanya sudah lama tak bertemu si bontot maka kami pun menikmati JJS di sepanjang jalan Krapyak sambil berwisata kuliner (hoby yang gak boleh lepas kalo udah di Jogja) hee… Ba’da maghrib setelah mengantar si bontot kembali ke asrama saya pun langsung menuju sekretariat IKAMASI untuk menghadiri puncak acara Milad XI. Seperti 3 kali milad sebelumnya teman-teman IKAMASI selalu menampilkan pagelaran seni lenong Bekasi yang gokil dan lumayan mengocok perut (nggak kalah deh sama malih, bolot, mpok nori and the geng). Milad kali ini pun saya dikabari oleh teman-teman pengurus baru bahwa akan ada penampilan lenong juga. Wah, penasaran pengen liet (topeng) lenongnya teman-teman sekarang.

persiapan display panggung hari pertama sebelum hujan

persiapan display panggung hari pertama sebelum hujan

Di tengah perjalanan tiba-tiba hujan lebat turun di hampir seluruh wilayah Jogja tak terkecuali di Sekretariat IKAMASI. Mendung dan gerimis memang sudah mengintai sejak sore namun hujan derasnya baru turun setelah maghrib. Saya pun terpaksa berhenti dulu untuk berteduh sambil menunggu hujan reda di jalan Balai Kota Jogja. Namun setelah beberapa menit menunggu hujan tak kunjung reda (bahkan sampai tengah malam). Panitia dan pengurus yang menghubungi saya hendak menjemput tapi saya bilang tidak usah, dan akhirnya saya putuskan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jas hujan yang disediakan di motor si Achoy yang saya pinjam. Ba’da Isya saya tiba di sekretariat yang masih juga diguyur hujan dan melihat teman-teman tertunduk lesu sambil membereskan panggung beserta property yang terkoyak karena hujan. Sebagian lainnya merapihkan halaman sekretariat yang sempat banjir sedikit. Menurut teman-teman sebelum hujan angin lebih dulu bertiup kencang sehingga backdrop dan beberapa display panggung rusak. Untunglah panitia sangat sigap membereskan semuanya apalagi bagian operator karena banyak lampu-lampu panggung, sound system, serta kabel-kabel yang bisa saja konslet terkena air hujan.

panitia operator lighting yang sigap merapihkan peralatan saat hujan

panitia operator lighting yang sigap merapihkan peralatan saat hujan

Para undangan dari teman-teman orda (organisasi daerah) yang lain pun sudah hadir, saya masih bisa mengenali beberapa diantara mereka perwakilan orda Jakarta (IKPMB/KMJ) dan IKPM Jawa Barat/asrama Kujang. Kami pun ngobrol-ngobrol sejenak sambil bernostalgia meremind kenangan-kenangan dulu sewaktu berjuang bersama-sama di IKAMASI dan di asrama (Jawa Barat) Kujang-Jogja. Disitu ada juga Jamil, SHI mantan staff saya di bidang pemberdayaan masyarakat periode 2007-2009, ada Iwan, Nasri, Soang, Yasir. Alumni terakhir yang datang yaitu mpok Dewi yang termasuk “the founding mother’s” –nya IKAMASI hadir bersama anaknya yang lucu. Jadilah suasana keakraban kita yang dahulu seperti hadir kembali. Teman-teman anggota IKAMASI yang baru juga sekilas saya perhatikan dan mayoritas sama dengan yang dulu, gokil, penuh canda dan banyolan, celetukan, ceng-cengan, sampai kreativitas mereka yang tak kalah seru. Saya sempat dibikin takjub ketika didengarkan lagu hymne IKAMASI yang dibawakan oleh teman-teman hasil karya mereka. “Salut buat teman-teman (sambil mengacungkan dua jempol) sekarang udah ada hymnenya IKAMASI”, ucap saya kepada mereka.

acara syukuran milad setelah hujan

acara syukuran milad setelah hujan

Sementara hujan masih terus mengguyuri Jogja, di beberapa titik bahkan banjir belum lagi ditambah macet karena bertepatan dengan malam minggu plus tanggal merah, sebagian besar penduduk Jogja bertolak menuju Candi Borobudur untuk menyaksikan acara peringatan hari waisak. Setelah diminta saran dan pendapat oleh Ketum IKAMASI (bang Odi) saya pun mempersilahkan teman-teman untuk mengadakan syukuran ala kadarnya saja, yang penting rasa syukur kita, adapun casingnya bisa macam-macam, mengingat tamu sudah banyak yang hadir. Acara ramah tamah pun dimulai, nampak bang Odi tak mampu berkata-kata dalam sambutannya karena merasa nggak enak dengan teman-teman yang sudah mempersiapkan segalanya dengan maksimal juga para undangan yang sudah hadir. Namun saya dan teman-teman yakin kita semua tidak ada yang kecewa dan tetap semangat meski acara jadi sederhana saja. Para undangan pun memahami dan tetap memberi apresiasi serta motivasi kepada teman-teman IKAMASI, bahkan kita tetap dihibur dengan performance tim marawis dari teman-teman orda DKI Jakarta.

dihibur oleh tim marawis orda DKI Jakarta

dihibur oleh tim marawis orda DKI Jakarta

Setelah bang Odi, ketua panitia, dan mpok Dewi memberikan sambutan saya pun diminta menyampaikan sepatah dua patah kata (pas udah dipatah-patahin banyak juga katanya..hee..). saya hanya memberikan spirit kepada teman-teman bahwa ini kehendak Allah, manusia hanya bisa berencana tapi Allah yang berkuasa mengendalikan cuaca. Jangan berkecil hati, karena masih ada opsi-opsi lain yang bisa kita jalankan. Bahkan (saya langsung teringat) pada tahun 2006 dulu kita juga pernah ditimpa hal yang sama (force major). Disaat mempersiapkan Milad IV, pagi harinya tepat 27 Mei 2006 Jogja dilanda gempa bumi yang cukup dahsyat. Persiapan, perlengkapan hingga konsumsi yang sudah menyiapkan “segantang” semur jengkol untuk milad pun berhamburan hingga milad kali itu batal dan kita langsung membentuk posko-posko di daerah Bantul sampai Klaten. Ini yang saya maksud masih ada opsi lain untuk mengisi rangkaian (puncak) acara milad kita. Sambil sedikit merekam beberapa kegiatan IKAMASI di masa lampau saya terus memotivasi teman-teman untuk tetap solid dan berkarya dalam kapasitas masing-masing. Ke depannya kita akan merasakan setelah kembalinya kita ke Bekasi usai menuntut ilmu di Jogja, bahwa banyak lahan untuk kita berkontribusi demi Bekasi. Saya katakan sebagai tahadduts bin ni’mah bahwa pengalaman yang saya jalani sampai hari ini di Bekasi tidak terlepas dari pengalaman saya berorganisasi di IKAMASI. Sambutan saya tutup dengan yel-yel IKAMASI solid, IKAMASI berkarya, IKAMASI sukses.

obrolan bersama teman-teman alumni, anggota dan pengurus baru IKAMASI

obrolan bersama teman-teman alumni, anggota dan pengurus baru IKAMASI

Acara di sambung dengan makan-makan sambil ramah tamah diiringi alunan “tabokan marawis” dari orda Jakarta. Di akhir penutup panitia dan pengurus pun langsung mengadakan rapat mendadak untuk membicarakan opsi selanjutnya. Dengan berbagai dinamika rapat yang sama seperti dulu ketika saya memimpin IKAMASI, dari mulai kritik, saran, ngedumel, egosentris yang selalu menghiasi rapat dan diskusi. Saya hanya mengatakan sambil tersenyum, “itu hanya dinamika organisasi, yang penting tujuannya satu dan mufakat bersama-sama, komitmen untuk menjalankan, bukan hanya sebatas diperdebatkan, yang penting action-nya”. Walhasil, lahirlah keputusan bahwa kita akan melaksanakan panggung miladnya esok malam dengan berbagai pertimbangan, diantaranya kalau terlalu lama diundur khawatir semangat teman-teman akan mengendur dan sudah mendekati waktu UAS di kampus. Saya lihat teman-teman pengurus dan panitia sangat sigap dan cekatan langsung memilih opsi yang disepakati dan membentuk PJ/koordinator untuk persiapan besok. Ada saja celetukan IKAMASI yang selalu membuat suasana cair, itulah IKAMASI. “Milad tahun ini milad paling meriah, karena diadain 2 hari 2 malem”, begitulah ucapan seorang kawan IKAMASI.

Beberapa teman-teman undangan dan IKAMASI pun pulang karena sudah malam khususnya yang cewek-cewek. Saya beserta sebagian lainnya menetap di sekret sambil menunggu untuk nobar final liga champion yang mirip final liga Jerman karena kedua finalis yang notabene klub liga Jerman. Mayoritas teman-teman pastinya milih Muenchen termasuk saya, Cuma ada 2 (kayaknya) yang milih Dortmund. Bersambung…..

foto bersama usai syukuran (milad hari pertama)

foto bersama usai syukuran (milad hari pertama)

di depan sekretariat IKAMASI. setelah renovasi tahap 2 diberikan plang asset pemda kabupaten Bekasi

di depan sekretariat IKAMASI setelah renovasi tahap 2 diberikan plang asset pemda kabupaten Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *