Mari mengenang jasa guru-guru kita…

Geliat kebanggaan dengan profesi guru itu nampak setiap masuk tanggal 25 Nopember sebagai HUT (PGRI) atau Hari Guru dimana banyak sekolah dan guru-gurunya menjalankan upacara untuk menghormati jasa para guru. Sebagian berseragam khas batik paduan warna hitam putih (yang katanya melambangkan tinta dan buku) memenuhi lapangan dan arena-arena sekolah untuk melaksanakan upacara. Apalagi jaman now, guru bukanlah pekerjaan yang dipandang sebelah mata seperti dulu. “Jangan nikah sama guru, kamu nanti susah, mau dikasih makan apa nanti…”, “jangan jadi guru, gajinya kecil, cari aja pekerjaan yang lain yang lebih enak….”. Begitulah kira-kira mendengar cerita beberapa guru-guru yang sudah lama mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Statement seperti itu sering muncul di jaman dahulu dimana profesi guru masih dipandang sebelah mata. Determinasinya simple, karena penghasilannya kecil. Begitulah alasan orang tua dulu kalo berpesan kepada anak gadisnya yang mau menikah agar tidak dengan lelaki yang berprofesi sebagai guru, atau kepada puteranya yang ingin mencari pekerjaan untuk tidak bekerja sebagai guru. Lalu, kenapa saya mau jadi guru? More »

Setiap kali bicara tentang kemerdekaan maka pasti yang sering terngiang di benak kita adalah sosok presiden pertama sekaligus bapak proklamator Republik Indonesia (RI), Soekarno yang lebih akrab disapa Bung Karno. Statement terkenalnya “JAS MERAH” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) yang selalu dikumandangkan seakan kembali mengingatkan kita bahwa bangsa ini berdiri dalam ruang sejarah yang panjang. Sejarah panjang perjalanan bangsa ini harus selalu kita ingat, maka Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) setiap tahunnya menjadi ruang kontemplasi kebangsaan terhadap perjuangan para pendiri republik ini. Betapa beratnya perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia yang tidak mudah diraih. Baik para pahlawan, pemuda, pendidik, pejuang veteran, ulama semua bersatu melawan para penjajah. Pertanyaannya sekarang sudahkah kita melanjutkan perjuangan kemerdekaan para pahawan kita?. More »

Pada suatu kesempatan sesi sharing training abuabbad.com ada seorang peserta bertanya, “Bagaimana caranya membagi tugas antar lintas posisi di sekolah agar tidak tumpang tindih”. Spontan saya awali jawaban peserta tersebut dengan joke, “kalau antar lintas posisi masih gampang bu, yang susah kalau antar lintas Sumatera kayak bis ALS”. Para peserta tertawa sejenak mendengar jawaban singkat saya. Maksud bagi penanya adalah antara posisi di yayasan dengan di sekolah karena pada saat itu kita sedang membahas manajemen sekolah unggul. Kebetulan penanya sama seperti saya yang mengajar di sekolah swasta. Yayasan dan sekolah, dua bagian yang berbeda namun satu kesatuan. Pada beberapa sekolah seringkali tupoksinya menjadi rancu karena tumpang tindih tadi. More »

Ramainya atmosfir politik tanah air yang tergiring dari kota Jakarta akhir-akhir ini hampir tak terhenti. Mulai dari aspek politik, budaya, ekonomi, hingga agama pun nyaris dilumat semua dalam beragam opini positif dan negatif. Semua kelompok berbondong-bondong mengklaim jagoannya yang paling ini paling itu. Media sosial penuh dengan postingan dan komentar yang tak pernah sepi dari polemik. Di kubu sebelah bertebaran postingan yang terkesan menasbihkan segala kebenaran yang keluar dari ucapan dan tindakan kelompok atau tokoh yang didukungnya. Tak jarang, postingan tendensius yang “centil” dengan gaya ke-anti mainstream-an secara masif juga disebarluaskan untuk menegaskan keberpihakannya. Di kubu lain serangannya pun tak kalah meriah untuk terus mengatakan bahwa kelompok itu salah, jelek dan tidak pro terhadap mayoritas. Ada apa dengan (anak) bangsa ini? More »

Orang bijak ada yang berkata, “don’t be afraid to change in everything”. Perubahan bagi sebagian orang dianggap sebagai tantangan namun bagi sebagian orang lain juga bisa dianggap hal yang menyebalkan. Merubah suatu keadaan kedalam keadaaan yang berbeda memang membutuhkan adaptasi. Perlu keberanian juga dalam menerima suatu perubahan. Karena sejatinya perubahan adalah sunnatullah yang pasti akan kita jumpai di setiap sendi kehidupan. More »

ilustrasi

                    ilustrasi

Sebagian dari kita (termasuk saya) mungkin ada yang gemas dengan jawaban-jawaban pak presiden yang selalu mengambang, bahkan akhir-akhir ini sering melempar pertanyaan kepada para menterinya tentang kebijakan-kebijakan dan isu yang kontroversial. Entah untuk menghindari pertanyaan akibat kebijakan kontroversial atau memang tidak memahaminya atau memang belum ada koordinasi kepada presiden. Tapi kalau yang terakhir nampaknya jauh dari kemungkinan. Bagaimana mungkin suatu kebijakan yang berdampak ke publik tapi presiden belum mendapatkan kabar. Namun bagi saya, jawaban seperti itu kurang pas diberikan oleh presiden kepada rakyat. Apalagi ditambah menjawabnya sambil melempar senyum-senyum lebar. Tidak ada salahnya kita disuruh bertanya ke menteri langsung agar dapat jawaban yang detail. Tapi lebih afdhol lagi kalau presiden menjawab dengan bijak dan secara garis besar saja baru detailnya menteri yang menjelaskan. More »

Hari ini dengan berat hati saya membatalkan diri untuk menghadiri acara deklarasi IPGI (Ikatan Profesi Guru Indonesia) di kampus UNJ Rawamangun. Saya sampaikan permohonan maaf kepada beberapa rekan di komunitas guru melalui pesan di inbox facebook. Organisasi ini lahir dari sebuah kegelisahan beberapa kawan-kawan aktivis guru yang aktif mengajar sebagai guru di sekolah. Dalam merespon berbagai isu-isu kontemporer dan kontekstual berbagai problematika pendidikan maka kami sadar perlu dibentuknya sebuah organisasi berbasis profesi yang mewadahi perjuangan guru dan upgrading serta pengembangan kompetensi keguruan yang gradual dan komprehensif dan tentunya satu visi dan misi dalam menjalani roda organisasi yang bergerak dinamis. Untuk itu selamat berjuang kawan-kawan IPGI. Kepada ketua umum, sekjen dan pengurus pusat lainnya selamat bekerja dan berkarya. More »

sumber: https://alfinfanther.wordpress.com/2012/11/10/thread-ucapan-selamat-hari-pahlawan/

Bung Karno dengan statement terkenalnya “JAS MERAH” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) seakan terngiang kembali manakala tanggal 10 November hadir yang notabene sebagai hari pahlawan. Sejarah panjang perjalanan bangsa ini harus selalu kita ingat, maka hari pahlawan merupakan salah satu momentum kontemplasi terhadap perjuangan para pahlawan. Betapa beratnya perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia yang tidak mudah diraih. Baik para pahawan, pemuda, pejuang veteran, ulama semua bersatu melawan para penjajah. Pertanyaannya sekarang sudahkah kita melanjutkan perjuangan para pahawan kita?. Bukan berjuang dengan senjata seperti yang dilakukan para pahlawan kita, namun berjuang dengan penuh semangat mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa yang unggul dan bermartabat. Setidaknya berkarya melalui berbagai lini profesi sesuai kapasitas dan kompetensi kita itu sudah bisa dikatakan berjuang dan menjadi pahlawan masa kini. Dalam kata pahlawan ada kata “lawan”. Dulu pahlawan kita melawan penjajah, melawan ketidak adilan, melawan sekutu. Maka kini kita sebagai “pahlawan” masa kini kita harus konsisten melawan kebodohan, rasa malas, pesimis, kerusakan, agar prestasi dan nilai terbaik yang kita raih. More »

Mari mengenang jasa guru-guru kita…

Geliat kebanggaan dengan profesi guru itu nampak setiap masuk tanggal 25 Nopember sebagai HUT (PGRI) atau Hari Guru dimana banyak sekolah dan guru-gurunya menjalankan upacara untuk menghormati jasa para guru. Sebagian berseragam khas batik paduan warna hitam putih (yang katanya melambangkan tinta dan buku) memenuhi lapangan dan arena-arena sekolah untuk melaksanakan upacara. Apalagi jaman sekarang guru bukanlah pekerjaan yang dipandang sebelah mata seperti dulu. “Jangan nikah sama guru, kamu nanti susah, mau dikasih makan apa nanti…”, “jangan jadi guru, gajinya kecil, cari aja pekerjaan yang lain yang lebih enak….”. Begitulah kira-kira mendengar cerita beberapa guru-guru yang sudah lama mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Statement seperti itu sering muncul di jaman dahulu dimana profesi guru masih dipandang sebelah mata. Determinasinya simple, karena penghasilannya kecil. Begitulah alasan orang tua dulu kalo berpesan kepada anak gadisnya yang mau menikah agar tidak dengan lelaki yang berprofesi sebagai guru, atau kepada puteranya yang ingin mencari pekerjaan untuk tidak bekerja sebagai guru. Lalu, kenapa saya mau jadi guru? More »

Tak terasa hampir dua bulan sudah rumah (blog) saya ini kering kerontang dari update posting. Kalau diibaratkan rumah mungkin sudah banyak sarang laba-laba menghiasinya. Ketika saya lihat postingan terakhir saya tertanggal 30 Agustus 2013 saya baru ingat kalau sudah lama tidak melongok kesini. Ini juga termasuk jangka waktu terlama saya tidak update postingan. Saya pun teringat istilah teman-teman blogger dengan sebutan “blogger pingsan” yang mempersonifikasi seorang blogger (yang punya blog) tapi postingannya kosong atau dalam rentang waktu yang lama tidak terjamah. Seperti orang yang pingsan dia hanya non-aktif sementara lalu sadar lagi. Begitu juga istilah blogger pingsan, dia non-aktif postingan dalam beberapa waktu kemudian aktif lagi memposting. Bagaimana kalau non-aktifnya kebablasan. Mungkin istilahnya jadi blogger is dead. Hee… tapi yang dead bukan bloggernya melainkan blognya. Bisa juga blogger mati suri, whatever-lah istilahnya…

ilustrasi: http://dokter-agus.blogspot.com

More »