Mari mengenang jasa guru-guru kita…

Geliat kebanggaan dengan profesi guru itu nampak setiap masuk tanggal 25 Nopember sebagai HUT (PGRI) atau Hari Guru dimana banyak sekolah dan guru-gurunya menjalankan upacara untuk menghormati jasa para guru. Sebagian berseragam khas batik paduan warna hitam putih (yang katanya melambangkan tinta dan buku) memenuhi lapangan dan arena-arena sekolah untuk melaksanakan upacara. Apalagi jaman now, guru bukanlah pekerjaan yang dipandang sebelah mata seperti dulu. “Jangan nikah sama guru, kamu nanti susah, mau dikasih makan apa nanti…”, “jangan jadi guru, gajinya kecil, cari aja pekerjaan yang lain yang lebih enak….”. Begitulah kira-kira mendengar cerita beberapa guru-guru yang sudah lama mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Statement seperti itu sering muncul di jaman dahulu dimana profesi guru masih dipandang sebelah mata. Determinasinya simple, karena penghasilannya kecil. Begitulah alasan orang tua dulu kalo berpesan kepada anak gadisnya yang mau menikah agar tidak dengan lelaki yang berprofesi sebagai guru, atau kepada puteranya yang ingin mencari pekerjaan untuk tidak bekerja sebagai guru. Lalu, kenapa saya mau jadi guru? More »

Sederet nomer baru masuk ke dalam panggilan Hp saya yang terletak di meja kerja. Agak lama saya angkat karena mengamati dulu nomernya, meski begitu saya tidak juga mengenalinya dan akhirnya saya angkat. Terdengar suara yang sebetulnya tidak asing bagi saya. “Assalamu’alaikum.. Ustadz Bhayu ini H. Ghofur, SMP Attaqwa Pusat”. Subhanallah… Saya tersentak. Baru saja saya mencoba menelisik untuk mengenali suara khas yang lembut itu ternyata langsung dijawab oleh sang penelpon. Seakan tak percaya, ada gerangan apa beliau menelepon saya. Ya, H. Abdul Ghafur Rouf, M.Pd.I lengkapnya. Beliau guru saya sewaktu di Pondok Pesantren Attaqwa Pusat Ujungharapan Bekasi. More »

Buku Bukan Guru Biasa|Penulis: Imas Kurniasih , S.Pd.I

Buku Bukan Guru Biasa|Penulis: Imas Kurniasih , S.Pd.I

Sebelum saya nulis intisari dari judul di atas, saya mau ucapin terima kasih dulu buat pak Dedi Dwitagama yang lebih sering dan akrab saya panggil bang Dedi atau mister. Saya berterima kasih karena kemarin sudah nebeng di mobilnya dalam perjalanan pulang dari kampus UHAMKA Ciracas Jakarta Timur setelah kami sama-sama menghadiri acara Gender Awadrs Pusat Studi Gender & Perlindungan Anak (PSGPA) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA). Awalnya saya berangkat ke UHAMKA nebeng dengan Omjay dari SMP Labschool Rawamangun. Agar Omjay bisa langsung pulang via tol Jatibening ba’da maghrib maka saya bareng bang Dedi yang searah karena rumahnya di kawasan Jakarta Timur. More »

selamat hari kartiniBlog Abu Abbad mengucapkan Selamat Hari Kartini. Jadilah Kartini masa kini, yang kehadirannya menginspirasi para generasi bangsa. Menciptakan kedamaian diantara manusia dan mencerdaskan anak bangsa. Bukan hanya seremonial dan romantisme sejarah belaka. Aksentuasi dan aktualisasi nilai-nilai perjuangan Kartini yang senantiasa menginspirasi dan menggerakkan anak bangsa. Jadilah Kartini….. More »

Semangat hari guru tahun ini agak berbeda karena menteri pendidikan dasar dan menengah (Mendikdasmen) kita pak Anies Baswedan, Ph.D meminta kita semua (bukan hanya guru) untuk flashback (meminjam istilah anak jaman sekarang). Flashback dalam artian mengenang jasa guru-guru kita, datangi mereka, cium tangan mereka, dan ucapkan terima kasih kepada mereka. Dengan tangan-tangan guru-lah kita bisa jadi seperti sekarang ini. Tahun lalu saya pun menulis sebuah refleksi hari guru yang mana tulisan itu saya dedikasikan untuk guru SD saya dulu (tulisannya disana). Ya, memang guru sejatinya yang banyak berperan menjadikan kita mengerti akan banyak hal. Mereka mendidik, mengajarkan dan membimbing kita menuju arah cita-cita yang kita inginkan. More »

sumber: https://alfinfanther.wordpress.com/2012/11/10/thread-ucapan-selamat-hari-pahlawan/

Bung Karno dengan statement terkenalnya “JAS MERAH” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) seakan terngiang kembali manakala tanggal 10 November hadir yang notabene sebagai hari pahlawan. Sejarah panjang perjalanan bangsa ini harus selalu kita ingat, maka hari pahlawan merupakan salah satu momentum kontemplasi terhadap perjuangan para pahlawan. Betapa beratnya perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia yang tidak mudah diraih. Baik para pahawan, pemuda, pejuang veteran, ulama semua bersatu melawan para penjajah. Pertanyaannya sekarang sudahkah kita melanjutkan perjuangan para pahawan kita?. Bukan berjuang dengan senjata seperti yang dilakukan para pahlawan kita, namun berjuang dengan penuh semangat mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa yang unggul dan bermartabat. Setidaknya berkarya melalui berbagai lini profesi sesuai kapasitas dan kompetensi kita itu sudah bisa dikatakan berjuang dan menjadi pahlawan masa kini. Dalam kata pahlawan ada kata “lawan”. Dulu pahlawan kita melawan penjajah, melawan ketidak adilan, melawan sekutu. Maka kini kita sebagai “pahlawan” masa kini kita harus konsisten melawan kebodohan, rasa malas, pesimis, kerusakan, agar prestasi dan nilai terbaik yang kita raih. More »

Adalah pak Muhsin, lengkapnya Drs. Muhsin Hariyanto, M.Ag. salah satu dosen yang banyak kesan berinteraksi dengan beliau selama kurun waktu 4 tahun saya hidup di Jogja. Alhamdulillah setelah 5 tahun sejak lulus kuliah S1 tidak berjumpa akhirnya bisa berjumpa lagi di acara Temu Alumni FAI UMY sekaligus mendapatkan motivasi, ilmu, dan pencerahan lagi dari beliau. Saat mendengar penuturan mas Ananto (ketua panitia Temu Alumni FAI UMY) dalam sambutannya bahwa yang banyak di-request oleh alumni adalah kehadiran pak Muhsin nampaknya memang sudah bisa ditebak. Pak Muhsin yang notabene dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memang sosok yang selalu dirindukan bagi para mahasiswanya bahkan yang sudah alumni juga. Saya pun mencoba memutar kembali memori saya ketika kuliah. Masih seperti dulu, pak Muhsin dengan senyum khasnya selalu lebih dulu menyapa, bertanya kabar, menyemangati, penuh hikmah selalu menghiasi perjumpaan kami. Plus tak berubah pula konsistensinya menggunakan kopiah (peci hitam) kemanapun melangkah. Untuk urusan kopiah dulu saya sempat meragukan “sibghoh” muhammadiyah beliau. Maklum dulu pertama kuliah dan baru lulus dari pesantren saya termasuk orang yang melihat segala sesuatu dengan simbol (keagamaan). Ketika melihat simbol pak Muhsin dengan kopiahnya (yang identik dengan kostum NU) saya mengira beliau orang NU meski aktif di Muhammadiyah. More »