abuabbad.com – Rabu, 20 Februari 2019, saya berkesempatan menghadiri acara Dialog Pendidikan yang diadakan oleh PP IKAA (Ikatan Keluarga Abiturien Attaqwa) di Aula Komplek Pondok Pesantren Attaqwa Ujungharapan Bekasi. Dialog yang bertemakan tentang pemikiran KH. Noer Alie di bidang pendidikan ini dengan mengambil judul besar “Tujuan Pendidikan dan Fungsi Guru Dalam Pemikiran KH. Noer Alie” dibuka oleh KH. Amien Noer, Lc., MA selaku ketua yayasan Attaqwa Pusat. Dalam prolognya KH. Amien Noer banyak menceritakan bagaimana sikap KH. Noer Alie semasa hidup terlebih di masa perjuangan melawan penjajah hingga mendirikan lembaga pendidikan. Satu kesimpulan yang disampaikan beliau bahwa KH. Noer Alie sangat istiqomah, konsisten dalam aqidah. Inilah yang membuat KH. Noer Alie dikenal sebagai sosok yang teguh dalam hal agama. Selain itu juga KH. Noer Alie mempunyai pengalaman yang kuat dalam pergaulan yang luas dengan beberapa kalangan khususnya tokoh-tokoh Islam. 

Sesi dialog diisi oleh para narasumber yang sangat kompeten di bidang pendidikan dan termasuk murid-murid KH. Noer Alie yang merasakan langsung pola pengajaran dan pendidikan KH. Noer Alie. Mereka adalah Dr. H. Abdul Jabbar Majid, MA (Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat – menantu KH. Noer Alie), KH. Abid Marzuki, M.Ed (Ketua STAI Attaqwa), Dr. Masykur Hakim (Dosen UIN Jakarta & STAI Attaqwa), dan Dr. Abdul Rojak. Acara dialog dalam bentuk panel ini dimoderatori oleh Cecep Maskanul Hakim, M.Ec (Alumni Attaqwa tahun 80-an) yang sekarang bekerja di Bank Indonesia.

Pada kesempatan pertama Dr. H. Abdul Jabbar menyampaikan paparannya dengan menceritakan awal mula beliau menemukan risalah (manuskrip) KH. Noer Alie yang disampaikan dalam 4 sesi pada sebuah penataran guru tingkat ibtidaiyah (setara SD) “Al-Huda” Yayasan P3 (Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan dan Pertolongan) di Ujungharapan Babelan Bekasi tanggal 16-21 Rabi’ul Awwal 1400 H / 25-31 Januari 1980. Dalam perkembangannya nama “Al-Huda” menjadi “Attaqwa” dan yayasan P3 menjadi Yayasan Attaqwa. Risalah yang semula ditulis tangan oleh KH. Noer Alie dalam huruf Arab Melayu (di kalangan santri dikenal dengan Arab pegon) yang kemudian disalin ke dalam huruf latin oleh almarhum H. A. Nawawi MN, S.Ag didapati setelah Dr. H. Abdul Jabbar mencoba menelaah kerangka pemikiran KH. Noer Alie yang sampai sekarang dikenal dengan motto “Benar, Pintar, Terampil”. Secara eksplisit Dr. H. Abdul Jabbar memformulasikan pemikiran KH. Noer Alie tentang tujuan pendidikan dimulai dari pemahaman fungsi dan tujuan hidup seorang manusia yaitu, pertama menjadi ‘abdullah’ (hamba Allah) dengan berdalil kepada Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56 dan kedua menjadi khalifah dengan berdalil kepada Q.S. Al-Baqarah ayat 30. Dari situlah muncul motto yang iconic di kalangan Attaqwa dengan kata-kata “Benar, Pintar, Terampil” yang diambil dari risalah KH. Noer Alie dimana beliau menetapkan bahwa tujuan pendidikan adalah mencetak insan yang pintar dan benar.

Paparan Dr. H. Abdul Jabbar rupanya memantik kita semua untuk berdialog lebih jauh lagi. Moderator yang biasa disapa bang Cecep di kalangan alumni Attaqwa kemudian mencoba membatasi dialog sebelum masuk ke ranah metode. Bang cecep mencoba memberi stimulus kepada narasumber lain untuk berangkat dari batasan benar dan pintar itu apa dan bagaimana mencapainya. Narasumber selanjutnya Dr. Masykur Hakim menyampaikan bahwa konsepsi model pendidikan KH. Noer Alie secara simbolik bisa dilihat dari tradisi yang ada di lingkungan Attaqwa itu sendiri. Seperti sebutan pengajar dengan kata “Guru”. Umumnya lembaga pendidikan menyebut guru dengan sapaan bapak, ustadz, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa KH. Noer Alie mempunyai gambaran seorang pendidik yang komprehensif. Bukan hanya mengajarkan ilmu saja tapi juga membina, mendidik serta memelihara tumbuh kembang murid. Kata “Guru” itu sendiri lebih menekankan pada muatan moral dan akhlaq. Oleh karenanya hingga saat ini semua santri di Attaqwa memanggil pengajar dengan sebutan guru.

Dari sisi akademis, narasumber ketiga Dr. Abdul Rojak pun mengapresiasi pemikiran KH. Noer Alie dengan rumusan tujuan pendidikan benar dan pintar tersebut. Karena faktanya rumusan ini juga sesuai dengan Undang-Undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) dan Undang-undang Guru dan Dosen yang menyebut secara implisit tentang tujuan pendidikan yang benar dan pintar. Dalam kerangka konsep pendidikan kata “benar” mengindikasikan parameter perilaku (afeksi) dan kata “pintar” mengindikasikan parameter pengetahuan (kognisi).

Narasumber terakhir yaitu KH. Abid Marzuki, M.Ed mengupas aspek benar dan pintar dari perspektif ‘aqli dan naqli. Hal tersebut sekaligus menjawab pertanyaan moderator tentang batasan dan upaya mencapai predikat benar dan pintar. Dari perspektif Islamic Studies, “pintar” dapat dianggap sebagai refleksi penguasaan dari dalil-dali ‘aqli, sedangkan “benar” dapat dianggap sebagai refleksi internalisasi nilai-nilai yang bersumber dari dalil-dali naqli (Al-Qur’an dan Sunnah). Dari perspektif fiqh dan ushul fiqh batasan “benar” itu menurut Al-Qur’an dan Sunnah, “pintar” adalah kemampuan ijtihad dan qiyas sebagaimana terdapat pada hirarki hukum Islam yang disepakati oleh jumhur ‘ulama sunni.  Kemudian dari perspektif pendidikan, “pintar” sebagai hasil dari pengembangan potensi (cultivation of human potensial), sedangkan “benar” sebagai hasil dari pengembangan nilai-nilai (transformation of values) sebagaimana pendapat alm. Prof. Dr. Hasan Langgulung.

Beberapa audience kemudian menyampaikan pertanyaan, pendapat, respon, ide, konfirmasi dan follow up yang perlu dikembangkan dari hasil dialog ini. Kesemuanya itu menunjukkan betapa luasnya pemikiran KH. Noer Alie yang perlu kita kodifikasi bersama sesuai perkembangan zaman. Hal tersebut karena menurut KH. Kholilullah Ahmasy (dosen STAI Attaqwa) mengatakan bahwa pemikiran KH. Noer Alie itu futuristik dan visioner. Pada kesempatan dialog saya juga menyampaikan harapan bahwa hasil dialog ini tidak sampai disini, tapi juga harus ada tindak lanjut seperti dalam bentuk blue print konseppendidikan Attaqwa yang bisa dijadikan pijakan dan digunakan oleh seluruh lembaga pendidikan di kalangan Attaqwa. Jangan sampai khazanah pemikiran KH. Noer Alie khususnya di bidang pendidikan meluap begitu saja tanpa bisa dimanifestasikan dalam langkah kongkrit oleh para penerus generasi KH. Noer Alie (read: Attaqwa).

*sumber dokumentasi: Panitia-PP IKAA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 + 10 =