Hari-hari belakangan ini kita disuguhkan kembali pada anomali-anomali sosial. Berbagai kasus hukum yang merusak tatanan nilai seakan menjadi sebuah epidemi bagi mereka yang terlibat. Diantaranya korupsi. Sudah sebegitu parahkah bangsa ini tak berdaya mengamputasi korupsi? Pertanyaan seperti itu sering dilontarkan oleh beberapa orang yang sudah mulai apatis terhadap penegakkan hukum di Indonesia. Namun, hal yang paling penting dan selalu diingatkan juga oleh para kaum optimist di negara ini adalah pembentukan karakternya. Penegakkan hukum merupakan langkah represif dari tindakan yang sudah terjadi, namun sebelum terjadi hal itu bisa dicegah melalui langkah preventif.

Banyak opsi-opsi yang ditawarkan oleh elemen masyarakat, seperti pembatasan kewenangan, kontrol penggunaan fasilitas (termasuk anggaran) negara, sampai penyemaian pendidikan karakter sebagai langkah mencegah transformasi kerusakan di masa yang akan datang. Namun toh tetap saja masih terjadi praktek korupsi, bahkan akhir-akhir ini tingkatnya mungkin sudah stadium lanjut, karena yang terlibat justeru orang-orang yang memiliki peranan penting seperti bendahara partai, menteri, sampai presiden partai. Ironisnya lagi, mereka tampil di media tanpa rasa malu sambil tersenyum penuh simpul seakan tak ada yang bermasalah dengan dirinya. Saat jumpa pers, wawancara, atau sekedar berlalu di hadapan awak media tetap senyumnya sumringah.

Budaya malu, mungkin budaya ini yang sudah ikut terkikis seiring membentangnya praktek korupsi di negeri yang kaya raya ini. Malu menjadi nomor kesekian dari urutan prioritas akuntabilitas yang hendak dibela dengan berbagai alibi dan legitimasi. Bahkan ada yang terang-terangan dalam pidatonya mengatakan, “kita tidak perlu malu….”. Padahal malu merupakan bagian dari entitas keimanan seseorang, elemen kontemplatif dalam diri manusia. Malu jika berbuat salah, malu jika tidak berbuat kebaikan. Nabi Muhammad SAW pun mengisyaratkan malu sebagian dari iman dalam haditsnya. Penting bagi kita memahami filosofi malu dalam kehidupan yang fana ini untuk bekal kehidupan yang kekal.

Kata “malu” dalam bahasa Arab adalah اَلْحَيَاءُ /al-hayaa’/. Kata ini, merupakan derivat dari kata اَلْحَيَاةُ /al-hayaah/, yang artinya adalah “kehidupan”. Selain اَلْحَيَاءُ, contoh derivat lain kata اَلْحَيَاةُ  adalah حَيَا /hayaa/, yang artinya “hujan”. Apa kaitan antara hujan dan kehidupan? Kaitannya adalah bahwa hujan merupakan sumber kehidupan bagi bumi, tanaman, dan hewan ternak.

Dalam bahasa Arab, al-hayaah “kehidupan” mencakup kehidupan dunia dan akhirat. Lalu, apa kaitan al-hayaa’ “malu” dengan al-hayaah “kehidupan”?. Jawabannya adalah karena orang yang tidak memiliki rasa malu, ia seperti mayat di dunia ini, dan ia benar-benar akan celaka di akhirat. Orang yang tidak memiliki rasa malu, tidak merasa risih ketika bermaksiat, tidak merasa kikuk ketika berbuat salah. Ketika ia melanggar setiap larangan Allah, ia anggap sebagai rutinitas, seolah-olah dia tidak merasa bahwa dirinya hina. Itulah mengapa seperti mayat, apapun yang terjadi di sekitar mayat, tidak akan dapat mendatangkan manfaat baginya.

Ibnul Qayyim berkata:

وَمِنْ عُقُوْبَاتِهَا ذِهَابُ الْحَيَاءِ الَّذِي هُوَ مَادَةُ الْحَياَة ِللْقَلْبِ وَهُوَ أَصْلُ كُلِّ خَيْرٍ وَذِهَابُ كُلِّ خَيْرٍ بِأَجْمَعِهِ

Di antara dampak maksiat adalah menghilangkan malu yang merupakan sumber kehidupan hati dan inti dari segala kebaikan. Hilangnya rasa malu, berarti hilangnya seluruh kebaikan

(اَلْجَوَابُ الْكَافِي لِمَنْ سَأَلَ عَنِ الدَّوَاءِ الشَّافِي, hal. 45)

 Sebagaimana sabda Nabi juga mengatakan:

اَلْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ

 “Rasa malu seluruhnya adalah kebaikan” (Shahih Muslim: 87)

Oleh karena itu, seseorang yang bermaksiat, berbuat kesalahan dan terus menerus melakukannya, dikatakan sebagai orang yang tidak tahu malu. Nabi bersabda:

“Sesungguhnya termasuk yang pertama diketahui manusia dari ucapan kenabian adalah jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu!” (Shahih Bukhari: 5769)

Dalam menjelaskan maksud hadits di atas, Ibnul Qayyim berkata,

وَاْلَمَقْصُوْدُ أَنَّ الذُّنُوْبَ تُضْعِفُ الْحَيَاءَ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى رُبَّمَا اِنْسَلَخَ مِنْهُ بِالْكَلِّيَّةِ حَتَّى رُبَّمَا إِنَّهُ لاَ يَتَأَثَّرُ بِعِلْمِ النَّاسِ بِسُوْءِ حَالِهِ وَلاَ بِاطِّلاَعِهِمْ عَلَيْهِ بَلْ كَثِيْرٌ مِنْهُمْ يُخْبِرُ عَنْ حَالِهِ وَقَبْحِ مَا يَفْعَلُهُ وَالْحَامِلُ عَلَى ذَلِكَ اِنْسِلاَخُهُ مِنَ الْحَيَاءِ وَإِذَا وَصَلَ الْعَبْدُ إِلَى هَذِهِ الحَالَةِ لَمْ يَبْقَ فِي صَلاَحِهِ مَطْمَعٌ

Maksudnya, dosa-dosa akan melemahkan rasa malu seorang hamba, bahkan bisa menghilangkannya secara keseluruhan. Akibatnya, pelakunya tidak lagi terpengaruh atau merasa risih saat banyak orang mengetahui kondisi dan perilakunya yang buruk. Lebih parah lagi, banyak di antara mereka yang menceritakan keburukannya. Semua ini disebabkan hilangnya rasa malu. Jika seseorang sudah sampai pada kondisi tersebut, tidak dapat diharapkan lagi kebaikannya”.

(اَلْجَوَابُ الْكَافِي لِمَنْ سَأَلَ عَنِ الدَّوَاءِ الشَّافِي, hal. 45)

Mari sama-sama kita menjaga diri kita dari perbuatan yang memalukan dan menjaga diri kita dengan rasa malu.

وَمَنِ اسْتَحْيَ مِنَ اللهِ عِنْدَ مَعْصِيَّتِهِ اِسْتَحَى اللهُ مِنْ عُقُوْبَتِهِ يَوْمَ يَلْقَاهُ وَمَنْ لَمْ يَسْتَحِ مِنَ اللهِ تَعَالَى مِنْ مَعْصِيَّتِهِ لَمْ يَسْتَحِ اللهُ مِنْ عُقُوْبَتِهِ

Barangsiapa malu terhadap Allah saat mendurhakaiNya, niscaya Allah akan malu menghukumnya pada hari pertemuan dengan-Nya. Demikian pula, barangsiapa tidak malu mendurhakaiNya, niscaya Dia tidak malu untuk menghukumnya”.

Referensi:

http://studyarabic.blog.ugm.ac.id/

http://badaronline.com/

Sumber Gambar: www.zulkbo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *