Ramainya atmosfir politik tanah air yang tergiring dari kota Jakarta akhir-akhir ini hampir tak terhenti. Mulai dari aspek politik, budaya, ekonomi, hingga agama pun nyaris dilumat semua dalam beragam opini positif dan negatif. Semua kelompok berbondong-bondong mengklaim jagoannya yang paling ini paling itu. Media sosial penuh dengan postingan dan komentar yang tak pernah sepi dari polemik. Di kubu sebelah bertebaran postingan yang terkesan menasbihkan segala kebenaran yang keluar dari ucapan dan tindakan kelompok atau tokoh yang didukungnya. Tak jarang, postingan tendensius yang “centil” dengan gaya ke-anti mainstream-an secara masif juga disebarluaskan untuk menegaskan keberpihakannya. Di kubu lain serangannya pun tak kalah meriah untuk terus mengatakan bahwa kelompok itu salah, jelek dan tidak pro terhadap mayoritas. Ada apa dengan (anak) bangsa ini?

Bahkan yang lebih ironis sekarang orang bebas berbicara apa saja bahkan pada bahasan yang bukan kapasitasnya. Salah satunya guru. Banyak sekali terlihat oknum guru-guru di media sosial yang ikut terbawa heroik dan provokatif dengan suasana yang bisa dikatakan panas sedemikian rupa. Tak jarang, ucapan guru yang mestinya menjadi panutan bagi murid-muridnya yang berteman juga di media sosial menjadi kontra-produktif bagi perkembangan karakter murid. Guru ngomongin politik. Guru debatin masalah agama bahkan saling menuding dan berbantah-bantahan.

Memang bukan tidak boleh, sah-sah saja kita semua memperbincangkan apa saja di media sosial, sebuah media yang diyakini sebagai wadah untuk mengekspresikan kata-kata kita secara individu. Namun kredibilitas dari seorang guru tentu akan tersandera karena memperdebatkan sesuatu yang bukan pada ranah keilmuannya. Kalau kita berbicara politik, budaya, agama, ekonomi pada ranah yang umum mungkin masih terkesan netral. Tetapi ketika pembicaraan itu sudah sampai pada ranah khusus seperti hukum halal-haram dalam agama, konstelasi politik, krisis ekonomi yang membutuhkan teori maka secara dominan akan menjadi polemik (kalau tidak ingin dikatakan hoax). Tak jarang bahkan dalam postingannya oknum guru menjadi amat tendensius dan terkesan sok anti mainstream dalam mempropagandakan keberpihakannya terhadap suatu permasalahan yang bagi mayoritas masyarakat umum itu kurang bagus. Dalam dukungannya terhadap satu tokoh pun menjadi terlihat primordial-emosionalnya ketimbang objektinya.

ilustrasi: http://pikore.co

Padahal di sekolah guru masih banyak tugas dan tanggungjawab yang berat untuk membentuk peserta didik agar bersikap positif, berkarakter kebangsaan, agamis, netral dan sebagainya. Bagaimana mungkin guru mengajarkan kejujuran sedangkan dia aktif menebar berita hoax di media sosial. Seperti apa respon murid ketika ia diajarkan tentang kesantunan sedangkan si guru hampir setiap hari menebar kebencian di media sosial. Alangkah bagusnya kalau opini-opini guru di postingan media sosial dituangkan dalam bentuk satu tulisan karya ilmiah untuk memajukan pendidikan Indonesia daripada hanya untuk memperdebatkan calon kepala daerah, kebijakan pemerintah yang kontroversial, dan berita-berita polemik yang belum jelas kebenarannya.

Presiden Jokowi sendiri menyampaikan 3 pesan yang harus terus ditanamkan oleh guru kepada murid saat menyampaikan pidato pada puncak Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2016 di SICC Sentul. Ketiga pesan tersebut yakni pertama nilai-nilai keberagaman, NKRI, Pancasila, UUD 45, dan Bhineka Tunggal Ika. Kedua, nilai-nilai karakter bangsa. Ketiga, etika dalam media sosial.

Menurut Presiden, guru berperan penting dalam mengajarkan dan membimbing peserta didik agar mereka tahu bahwa negara ini kaya akan keragaman. Dari segi karakter, nilai, etika, kejujuran, kedisiplinan, optimisme, kerja keras, harus terus disuntikkan kepada peserta didik penerus bangsa. Menurutnya, sikap saling menghujat, memaki, menjelekan, fitnah, adu domba bukanlah karakter nilai Indonesia. Itulah yang diinginkan presiden dan tentu kita semua. Bukan malah guru menjadi seorang pengamat dadakan yang bukan bidangnya, komentator yang sinis, bahkan menjadi seorang haters.

Dengan semangat mendidik putera-puteri bangsa maka hendaknya guru-guru bisa lebih bersikap proporsional dalam berpihak pada satu kelompok dan keadaan. Berkomunikasi di media sosial dengan bijak. Jika memang kelompok itu salah maka jangan terlalu bersikap seperti juru bicara yang terkesan selalu menjelaskan agar dianggap benar. Sebaliknya, jika memang kelompok tersebut benar maka harus hormati dan tak usah malu-malu untuk mengatakan benar. Dengan demikian kita sudah menampilkan ketauladanan guru di mata para murid semua. Bukan memberikan contoh sebagai seorang haters.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *