17 Agustus 2017 menjadi hari keberkahan bagi saya dan beberapa teman guru. Selain karena kita memperingati ulang tahun kemerdekaan yang ke 72 juga karena kita bisa terus mengisi kemerdekaan dengan pengabdian yang lebih baik. Tak terasa waktu memang berjalan cepat bila seiring dengan kenyamanan yang kita rasakan dalam menjalankan aktivitas-aktivitas sehari-hari meski banyak juga “kerikil-kerikil” yang kita hadapi dalam sehari-hari. Seperti saat ini yang tak terasa pula saya sudah 9 tahun bergabung dengan keluarga besar Yayasan Mentari Indonesia Jaya (YMIJ) di Bekasi. Memori saya pun langsung teringat bagaimana dulu awal-awal saya bergabung di yayasan ini yang terbilang baru mendirikan sekolah pada waktu itu SDIT Mentari Indonesia tahun 2008. Sejak lulus kuliah tahun 2008 setelah beberapa bulan mencoba bertahan di kota pelajar Yogyakarta akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Bekasi dengan niat mengabdikan diri untuk daerah tercinta.

Bayang-bayang sebagai pengangguran terdidik pun sempat mengintai saya. Kesana kemari mengajukan lamaran pekerjaan, bukan hanya ke sekolah tapi juga ke kantor-kantor perusahaan, lembaga sosial sampai outsourcing. Meskipun saya paham bahwa jurusan saya kuliah tak ada hubungannya dengan bidang-bidang yang saya coba lamar. Bahkan saya pernah magang selama 2 minggu di perusahaan pialang yang berkantor di bilangan Senayan Jakarta. Tak lupa selain mengajukan berbagai lamaran pekerjaan saya pun mengajukan beasiswa ke lembaga-lembaga beasiswa. Sampai akhirnya tahun 2008 saya masuk seleksi calon guru di YPI Al-Azhar Pusat di Kebayoran Baru Jakarta.

Selama kurang lebih seminggu saya bolak-balik Bekasi Jakarta dengan motor yang dipinjamkan bapak saya. Sampai akhirnya hasil tes tersebut saya berada di posisi ke 3 sedangkan yang dibutuhkan untuk guru agama (PAI) di Sekolah Al-Azhar tersebut hanya 2 orang. Pihak yayasan pun menginfokan bahwa saya masuk list cadangan dengan artian kalau yang 2 orang atau salah satunya gugur dan mengundurkan diri maka saya bisa masuk. Di tengah ketidakpastian itu saya pun kembali mengikuti tes seleksi calon guru di sekolah international di bilangan Pancoran Jakarta.

Suatu hari saat saya pulang dari silaturahim dengan kawan-kawan alumni pondok pesantren Attaqwa di Ujungharapan, saya melintas wilayah Pondok Ungu Permai (PUP) dan melihat spanduk yang terpasang di jalan yaitu informasi pendaftaran SDIT Mentari Indonesia. Keesokan harinya saya datang ke gedung Graha Optima tempat SDIT Mentari Indonesia dan saya pun mengajukan lamaran. Saya masih ingat dulu yang menerima adalah bu Fauziah yang sekarang sudah menjadi pegawai Pemda DKI Jakarta. Selang beberapa hari saya pun dipanggil untuk mengikuti tes seleksi dari mulai tes tulis, keagamaan, interview sampai micro teaching. Saat micro teaching yang paling berkesan karena saya “dikerjain” sama mereka yang akhirnya menjadi partner saya. Ada bu Yayah, pak Herlan, mis Hesti, bu Fauziah, bu Sri dan bu Rini yang waktu itu menjabat kepsek. Hingga akhirnya sampai sekarang hanya tersisa bu Yayah yang masih bertahan di YMIJ sebagai guru SDIT dan juga ada bu Sri sebagai staff keuangan YMIJ.

Di tengah proses tes itulah saya pun mendapat telpon dari YPI Al-Azhar Jakarta bahwa saya bisa kembali melanjutkan proses seleksi karena yang 1 orang mundur. Kebimbangan mulai hinggap, mana yang akan saya ambil. Sharing dengan orang tua menjadi hal yang utama. Segala pertimbangan diberikan. Kalau disana memang mungkin secara materi besar tapi butuh tenaga lebih dengan jarak yang jauh kalau tiap hari PP (pergi-pulang), kalaupun harus ngekos butuh biaya banyak juga. Kalau disini meski tidak besar tapi dekat dengan rumah, masih punya banyak waktu untuk mengembangkan kompetensi lainnya, masih bisa aktif di masyarakat. Begitulah pesan bapak saya yang saya anggap sangat moderat. Walhasil bergabunglah saya di SDIT Mentari Indonesia.

Karena sekolah ini terbilang baru dan kebetulan saya juga fresh graduate maka amanah yang diberikan oleh yayasan pun tak sedikit. Waktu itu angkatan pertama baru 6 siswa saja dan hanya satu kelas. Dengan semangat yayasan dan guru-guru serta staff yang juga tidak banyak kami terus mensosialisasikan sekolah ke beberapa lembaga pendidikan. Saya merasa bersyukur karena di YMIJ inilah saya banyak belajar kembali dan mengamalkan sedikit ilmu-ilmu pendidikan yang dulu didapat di perkuliahan. Saya sering dilibatkan dalam beberapa konsep pengembangan sekolah baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam hal tekhnis saya juga ditugasi mendesign kurikulum keislaman yang integratif dan kontekstual sampai pembuatan jadwal pelajaran. Saya merasa tertantang dan sesuai dengan apa yang saya tuju. Tentunya juga dengan bantuan teman-teman guru yang pengalaman seperti bu Yayah dan Mis Hesti.

Saat itu, saya sudah mulai menikmati passion saya sebagai pendidik. Komunikasi dengan teman-teman dan dosen di Yogyakarta pun masih aktif. Saya masih tetap berusaha melamar beasiswa, beberapa dosen saya pun mereferensikan beberapa link. Kesibukan baru saya sebagai seorang guru seolah menetralisir harapan tersebut. Masuk tahun ketiga pengembangan sekolah ternyata sekolah mendapatkan respon yang positif dari masyarakat. Secara kwantitatif bisa dilihat dari angka penerimaan murid baru setiap tahunnya yang meningkat hampir 50%. Di tahun ketiga saya gabung langsung diamanahi menjadi ketua PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Alhamdulillah dari yang awalnya hanya 6 siswa naik tahun kedua sebanyak 20-an siswa dan tahun ketiga menjadi sekitar 40-an siswa. Saya pun kaget sekaligus senang karena bisa membuka 2 kelas untuk peserta didik baru.

Dalam perjalanannya yayasan pun berencana memperluas jangkauan akses pendidikan dengan membuka tingkat SMP. Obrolan itu sebenarnya hanya sepintas lalu saat kami istirahat makan siang di saung garden school bagian belakang gedung SDIT Mentari Indonesia. Namun dengan keseriusan yayasan akhirnya saya diajak melihat lokasi lahan yang akan dibangun SMP. Seperti sebelumnya kali ini pun saya dilibatkan dari mulai mengurus perizinan sekolah di tingkat warga sampai ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi. Bagi saya ini pengalaman yang tak bisa dibayarkan, untuk itu semua saya berterima kasih kepada ketua YMIJ atas pengalaman-pengalaman berharga yanga selama ini dipercayakan kepada saya. Karena persiapan guru-guru SMP juga diambil dari guru SDIT Mentari Indonesia saya pun langsung diberi amanah mengemban posisi sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kesiswaan di usia yang relatif muda, 24 tahun. Kepala sekolah pertama waktu itu mis Ratna Nurlaila, S.Pd yang kini sudah menjadi pegawai di Kemendikbud.

Dua bidang yang saya jalani (kurikulum dan kesiswaan) hingga sekarang ini sangat terasa manfaatnya sebagai buah dari masa-masa kuliah. Hal inilah yang membuat saya dengan mudah mengkonsep beberapa program sekolah yang terintegrasi ke dalam berbagai kegiatan. Kurikulum sekolah yang dikembangkan terintegrasi dengan konsep-konsep berbasis kearifan lokal dan kebutuhan kompetensi akan tantangan global di masa yang akan datang. Maka lahirlah kurikulum karakter kewirausahaan dengan taggline Developing Entrepreneurship Character pada waktu itu. Di bidang kesiswaan saya tularkan pengalaman berorganisasi kepada peserta didik. Angkatan pertama yang hanya berjumlah 8 siswa tidak lantas membuat kita mengajar seadanya. Pembelajaran berbasis kontekstual lebih banyak kita jalankan, dari mulai outing class, field trip, interview, project, sampai latihan kepemimpinan yang saya beri nama BATRA ILMI (Basic Training Islamic Leadership of Mentari Indonesia). Pada akhirnya BATRA ILMI ini menjadi branding SMPI Mentari Indonesia selain juga entrepreneurship.

Di lain waktu saya mengembangkan pendekatan belajar berbasis ICT dan terus memotivasi guru-guru untuk menggunakan ICT sebagai media pembelajaran. Apalagi yayasan sangat concern dan mendukung penuh dalam aspek ICT. Di setiap seminar, training, workshop yang saya berikan tak sedikit guru-guru tetap semangat untuk menggunakan ICT. Saya sadar betul era digitalisasi saat ini pasti merambah ke dunia pendidikan. Para peserta didik yang notabene anak-anak digital native tak akan bisa dipisahkan dari teknologi. Hampir tiap hari kita membicarakan arah pengembangan sekolah bersama ketua yayasan, hingga sampai waktunya saya diberi amanah yang tak terhingga sekaligus tantangan sebagai kepala sekolah di SMPI Mentari Indonesia periode 2014-2017. Bukan waktu yang singkat bagi saya menjalani amanah sebagai kepsek karena sejatinya kepsek hanyalah tugas tambahan adapun tugas inti kita tetaplah sebagai guru. Maka masa pengabdian saya sebagai guru tentu lebih banyak kesannya.

Dan semua memori-memori itu diingatkan kembali di peringatan HUT RI ke 72. Saat upacara HUT RI ketua yayasan memberikan surprise sebagai penghargaan kepada 13 orang yang terdiri dari guru, staff hingga karyawan YMIJ yang sudah melewati masa 8-9 tahun. Bagi sebagian orang memang angka 9 tahun belumlah panjang dibandingkan dengan teman-teman yang sudah mengabdikan diri sebagai guru sejak lama. Namun bagi kami yang relatif muda melewati masa pengabdian yang konsisten bertahan di 1 lembaga merupakan kebahagiaan yang tak bisa dibayangkan. Rasa syukur pun selalu kami panjatkan dengan harapan bisa terus meningkatkan semangat dan prestasi untuk hari-hari yang akan datang. Selain itu, alhamdulillah saya mendapatkan juara 1 lomba menulis essai untuk guru YMIJ dalam rangka merayakan HUT RI ke 72. Jura 2 diraih oleh pak Adin dari SMPI Mentari Indonesia dan juara 3 diraih mis Mei dari SDIT Mentari Indonesia.

Inilah keberkahan yang saya rasakan bersama teman-teman guru di hari ulang tahun kemerdekaan negeri tercinta. Setidaknya, inilah cara kami mengisi kemerdekaan RI dengan terus mengabdi mempersiapkan generasi penerus bangsa, semangat berprestasi lebih baik lagi, serta menjalankan semuanya dengan sikap profesionalisme. Terima kasih teman-teman atas kerjasamanya selama ini dan terkhusus untuk ketua yayasan bapak H. Nurdjaya, SH atas segala ilmu dan pengalaman khususnya buat saya yang masih banyak kekurangan.

Dirgahayu RI ke 72.

Para Guru Juara Lomba Menulis Essai Menerima hadiah dari Ketua YMIJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *