Orang bijak ada yang berkata, “don’t be afraid to change in everything”. Perubahan bagi sebagian orang dianggap sebagai tantangan namun bagi sebagian orang lain juga bisa dianggap hal yang menyebalkan. Merubah suatu keadaan kedalam keadaaan yang berbeda memang membutuhkan adaptasi. Perlu keberanian juga dalam menerima suatu perubahan. Karena sejatinya perubahan adalah sunnatullah yang pasti akan kita jumpai di setiap sendi kehidupan.

Setiap manusia mempunyai kemampuan nalar yang visioner. Kemampuan tersebut terus berkembang seiring dengan stimulus yang dihadapinya. Dalam pekerjaan misalnya, ketika kita mendapati satu stimulus tentang perubahan maka disitulah ide dibutuhkan atau dipaksa untuk hadir. Kemampuan mengelola ide bukan hal yang mudah. Kita bisa dengan cepat mendapatkan ide dan di lain waktu kita amat sulit mendapatkan ide. Lalu bagaimanakah seharusnya ide itu kita kelola?

Persoalannya bukan pada seberapa briliannya ide kita tapi pertimbangan dan segala runtutan ide itu juga harus disepadankan. Jangan sampai ide yang bagus namun menjadi hambar ketika dilaksanakan karena tidak sepadan dengan sumber dayanya. Dalam bahasa lain, membumikan ide agar menjadi sebuah langkah sistematis yang terukur. Ada 3 point yang perlu diperhatikan dalam membumikan ide. Ketiga point tersebut saya singkat dengan IDE (Interlisasi, Demonstrasi, Eksekusi)

Internalisasi
Dalam membumikan ide, hambatan terbesarnya seringkali datang dari dalam diri kita sendiri. Tidak cukup PD (percaya diri) untuk mulai melakukannya, tidak tahu harus mulai dari mana, bisakah kita menjalankan ide, tidak ada sharing partner untuk mendiskusikan ide kita, dan lain sebagainya. Oleh karenanya internalisasi menjadi penting. Menginternalisasi ide bisa dimulai dengan pertanyaan Why dan How. Misalkan, seorang kepala sekolah menginginkan perubahan program yang ditujukan untuk seluruh komponen sekolah.

Pada tataran kepala sekolah internalisasi yang ditanamkan agar menguatkan ide tersebut adalah mengapa program tersebut harus dirubah (why). Selanjutnya bagaimana langkah-langkahnya. Sehingga pada ujungnya langkah-langkah itulah yang menjadi sebuah framework untuk perubahan.

Demonstrasi
Problem lainnya yang sering muncul dalam membumikan ide adalah terlalu cepatnya mengeksekusi. Apalagi kalau ide tersebut berhubungan dengan orang lain atau dalam satu lembaga. Bagaimana meyakinkan orang lain untuk menyetujui ide kita tidaklah mudah. Demonstrasi diperlukan agar ide kita bisa tersaring melalui pertukaran gagasan dengan orang lain. Ada baiknya kita simulasikan terlebih dahulu.

Pada saatnya ide sudah membumi maka prototype yang diinginkan dari sebuah ide kemudian menjadi satu instrumen kongkrit. Kesepahaman antar individu akan tercapai manakala ide tersebut didemonstrasikan sesuai hasil internalisasi.

Eksekusi
Di dalam proses eksekusi membumikan ide kesatuan gerak merupakan komponen vital. Ketika sudah dieksekusi maka harusnya sudah tidak ada lagi yang berdiam diri, berbalik arah atau melawan arus. Ide akan sampai dengan cepat pada tujuan yang akan dicapai dengan cara bersama-sama. Jika dalam konteks pribadi ide itu harus dieksekusi sambil menikmati inkubasi ide-ide lainnya.

Nah, mari wujudkan ide menjadi realitas. Membumikan ide agar tak hanya sebatas abstraksi…..

2 Comments

  1. Excellent pak ust.. !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *