Setiap kali bicara tentang kemerdekaan maka pasti yang sering terngiang di benak kita adalah sosok presiden pertama sekaligus bapak proklamator Republik Indonesia (RI), Soekarno yang lebih akrab disapa Bung Karno. Statement terkenalnya “JAS MERAH” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) yang selalu dikumandangkan seakan kembali mengingatkan kita bahwa bangsa ini berdiri dalam ruang sejarah yang panjang. Sejarah panjang perjalanan bangsa ini harus selalu kita ingat, maka Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) setiap tahunnya menjadi ruang kontemplasi kebangsaan terhadap perjuangan para pendiri republik ini. Betapa beratnya perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia yang tidak mudah diraih. Baik para pahlawan, pemuda, pendidik, pejuang veteran, ulama semua bersatu melawan para penjajah. Pertanyaannya sekarang sudahkah kita melanjutkan perjuangan kemerdekaan para pahawan kita?.

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah,
perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. (Soekarno)”

Bukan berjuang dengan senjata seperti yang dilakukan para pahlawan kita, namun berjuang dengan penuh semangat mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa yang unggul dan bermartabat. Setidaknya berkarya melalui berbagai lini profesi sesuai kapasitas dan kompetensi kita itu sudah bisa dikatakan berjuang dan menjadi pahlawan masa kini. Dulu pahlawan kita melawan penjajah, melawan ketidak adilan, melawan sekutu. Maka sekarang kita sebagai “pahlawan” masa kini harus konsisten melawan kebodohan, rasa malas, pesimis, kerusakan, agar prestasi dan nilai terbaik dapat kita raih. Salah satunya pada bidang pendidikan. Karena banyak petuah menyatakan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang maju pendidikannya. Kita tahu kisah bagaimana kaisar Jepang mengumpulkan para guru setelah bom Hiroshima dan Nagasaki jatuh. Tujuannya tak lain dan tak bukan hanya untuk memajukan kembali Jepang melalui pendidikan.

Mengapa pendidikan perlu dimerdekakan?. Jawabannya karena pendidikan masih seringkali hanya dimaknai sebagai “komoditi” yang sudah barang tentu banyak kepentingan. Dulu kita hanya mengenal Sekolah Rakyat. Kini model sekolah-sekolah di Indonesia sudah sangat beragam, dari mulai bertaraf nasional sampai international bahkan juga “bertarif” nasional sampai international. Keduanya menjadi cerminan komparasi dunia pendidikan melalui kacamata komoditi-material.

Kiranya perlu kita resapi pernyataan Bung Karno bahwa perjuangan kita saat ini lebih berat karena melawan bangsa sendiri. Adagium itu seakan terasa saat ini. Bagaimana kita lihat anak bangsa yang secara fisik biologis adalah putera bangsa tapi secara mental adalah penjajah bangsa. Alih-alih memerdekakan pendidikan di negara sendiri malah justeru menciptakan sekat-sekat dalam dunia pendidikan, baik sekat finansial, primordial sampai sekat bernuansa kolonial. Sudah saatnya kita memerdekakan pendidikan khususnya pada tiga pilar pendidikan yang sudah ditanamkan sejak dulu, yaitu perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan daya saing, serta penguatan tata kelola dan akuntabilitas.

Kemerdekaan bisa berarti dua aspek. Pertama, merdeka dalam hal fisik-simbolis yang dalam terminologi bahasa Arab disebut istiqlaal (استقلال). Itu sebabnya kita punya simbol kemerdekaan di ibu kota dalam nuansa spiritual yakni Masjid Istiqlal. Semangat spiritual tak bisa dilepaskan dari semangat perjuangan kemerdekaan. Kedua, merdeka dalam hal bathin-non simbolis yang dalam bahasa Arab disebut hurriyyah (حريــة) . Merdeka dalam arti istiqlaal sudah diraih oleh para pahlawan bangsa bersama rakyat. Tugas selanjutnya bagi kita semua adalah mempertahankan ruh merdeka dalam makna substantif (hurriyyah) dengan semangat perjuangan memerdekakan pendidikan salah satunya.

Dengan momentum 72 tahun RI ini mari kita mengisi perjalanan bangsa ini dengan menghadirkan pendidikan yang humanis dan merdeka. Bagi guru, setidaknya kita hadirkan nuansa kemerdekaan di dalam pembelajaran dan di dalam kelas. Menciptakan suasana belajar yang holistik, tidak menciptakan sekat-sekat bagi peserta didik. Kita meyakini bahwa semua anak dilahirkan istimewa. Membimbing peserta didik agar menjadi pribadi yang unggul dan mampu meneruskan cita-cita perjuangan kemerdekaan untuk masa depan generasi bangsa.

Semoga Indonesia semakin berkibar di kancah dunia terutama dipelopori kaum muda terdidik sebagaimana Indonesia dahulu yang didominasi anak muda putera-putera terbaik bangsa. Jangan ada lagi kesenjangan dan sekat-sekat pendidikan yang menghegemoni di negeri ini. Bagi pelajar mereka berjuang dengan penanya, dengan ilmu, inovasi, karya, motivasi dan inspirasi. Bagi para guru berjuang dengan ruh pengabdian mencerdaskan generasi bangsa. Jadilah kita pejuang kemerdekaan masa kini dengan semangat profesionalisme, patriotisme dan nasionalisme. Mari kita isi bersama-sama kemerdekaan ini dengan kerja yang lebih baik setiap harinya sebagaimana tema HUT RI ke 72 kali ini, “72 Tahun Indonesia Kerja Bersama” dan slogan “Kerja Bersama, Bersama Kerja”. Dirgahayu RI ke-72.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *