Suatu hari dia menuruti permintaan tolong kami untuk mengambilkan sesuatu di dalam kamar, lain hari dia kembali mengerti kemana harus meletakkan mainannya, dan hari berikutnya dia selalu spontan meraih tangan orang yang lebih dewasa lalu menciumnya jika ingin pergi dan dilakukan juga ketika melakukan kesalahan terhadap orang lain.

Tak ada yang lebih mengharukan sekaligus membahagiakan selain melihat tumbuh kembang anak kita. Setiap gerak, langkah dan tingkah lakunya yang menunjukkan perkembangan menjadi satu pelajaran bagi kita sebagai orang tua. Hal yang sering dijadikan hikmah adalah bahwa kita harus selalu berani belajar tak takut gagal sebagaimana anak kecil belajar berjalan yang selalu bangkit dan jalan lagi meskipun sudah terjatuh berulang kali.

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang sempurna sebagaimana tersirat dalam Al-Qur’an surat At-Tin ayat ayat 4. Berbeda dengan makhluk lainnya seperti malaikat, jin, hewan dan lainnya. Bahkan manusia diberikan akal sebagai pembeda dari makhluk lainnya. Maka itu manusia bisa lebih mulia di atas malaikat jika menggunakan potensi keistimewaan dirinya secara maksimal dan sesuai koridor Islam. Sebaliknya, manusia bisa lebih hina dari binatang jika akal dan potensi dirinya tidak digunakan untuk kebaikan, dalam bahasa Al-Qur’an disebutkan “bal hum adhollu” (bahkan lebih sesat dari binatang). Kesemuanya itu bisa kita saksikan di kehidupan nyata, dimana perilaku-perilaku binatang justeru banyak dilakukan oleh manusia. Karenanya manusia diberikan kebebasan untuk memilih (fa almahaa fujuurohaa wa taqwaahaa) mana yang akan diprioritaskan dalam amalnya dari dua potensi besar yang diberikan yaitu fujur (personifikasi keburukan) dan taqwa (personifikasi kebaikan) sebagaimana dalam surat Asy-Syams ayat 8.

Lalu dari manakah kita mempelajari itu semua? Awal pembelajaran kita adalah dari pendengaran, itu sebabnya banyak pakar pendidikan dan teori pendidikan menyatakan bahwa aktivitas belajar yang pertama adalah auditori (melalui proses mendengar). Hal ini selaras dengan ayat Al-Qur’an yang mengindikasikan bahwa Allah menjadikan “sam’a” (pendengaran) yang pertama pada diri manusia setelah mereka dikeluarkan dari perut ibunya dalam keadaan tidak tahu apa-apa.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Q.S. An-Nahl Ayat 78)

Dari ayat di atas bisa kita simpulkan bahwa pendengaran merupakan proses utama yang dijadikan pada diri manusia sebagai perekam input belajar, baru kemudian penglihatan (abshoor) serta hati (af-idah). Kesemuanya itu agar kita bersyukur karena diberikan nikmat kesempurnaan inderawi untuk belajar.

Dengan demikian kita akan menyaksikan anak kecil yang begitu cepat merekam perkataan kita dan mengikutinya. Seiring berjalannya usia barulah mulai meniru apa yang dia lihat. Dan pada kulminasinya hati yang akan menentukan mana pendengaran dan penglihatan yang baik untuk ditiru dan tidak ditiru. Hati sebagai basis mental-spiritual menjadi filter yang ampuh. Maka teori-teori auditori-visual hingga IQ-EQ-SQ itu sudah termaktub di dalam Al-Qur’an.

Disinilah diperlukan filter dari orang tua dan lingkungan agar apa yang anak kita dengar bukan input pendengaran yang buruk melainkan kebaikan-kebaikan yang diperdengarkan. Lebih jauh lagi bahkan beberapa dokter dan psikolog menyarankan untuk memperdengarkan musik-musik instrumental, tilawah, nasyid dan sebagainya ketika sang bayi masih di dalam perut. Maka sebelum teori-teori itu muncul Al-Qur’an sudah memberikan pengajaran bahwa pendengaran adalah fungsi utama dan tercepat dalam merekam pembelajaran.

Sebagai orang tua ataupun pendidik hendaknya kita senantiasa memperdengarkan dan menampilkan perilaku-perilaku yang baik agar kelak anak kita dan peserta didik kita melakukan sesuatu yang baik dari diri kita. Orang tua dan guru merupakan suri tauladan sekaligus sekolah bagi perkembangan perilaku hingga kematangan mereka. Jika sejak dini kita biasakan mendengarkan sesuatu yang baik maka anak pun akan cepat meniru. Seperti contoh kata maaf yang penulis biasakan (ajarkan) kepada anak serta merefleksikannya pada aspek psikomotor dengan cara salaman (cium tangan kepada yang lebih dewasa). Seketika itu pula anak langsung mengikutinya dan menjadikannya sebagai kebiasaan bila berpamitan kepada orang tua serta meminta maaf bila melakukan kesalahan. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan sebagai orang tua dan pendidik untuk terus menjaga tumbuh kembang anak kita ke arah yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *