Pendidikan karakter itu akan mudah berhasil jika diberikan sejak kecil dan sulit akan berhasil jika sudah dewasa. Seperti dahan yang kecil akan mudah dibentuk dan diluruskan, tidak seperti pohon kayu yang sudah tumbuh menjadi besar.

Belakangan ini terma pendidikan karakter kembali menguat di dalam kehidupan kita sehari-hari. Berbagai problema yang terjadi diantara anak manusia memang sejatinya bersumber dari karakter pribadi yang tidak bisa dilepaskan dari setiap individu. Terlebih munculnya berbagai fenomena kenakalan-kenakalan pelajar, remaja, hingga dewasa saat ini bisa dikatakan hampir semuanya disebabkan karena jauhnya mereka dari nilai-nilai karakter yang positif. Lepasnya nilai-nilai karakter juga disebabkan jauhnya mereka dari nilai-nilai Islami yang merupakan dasar bagi manusia.

Sudah tidak asing lagi di telinga kita jika mendengar banyak terjadi keributan, kekerasan antar pelajar, pemerkosaan, kasus pencabulan, masih merebaknya kriminalitas, korupsi yang sampai sekarang sulit diberantas dan kejahatan serta maksiat lainnya. Hal ini terbukti dari setiap berita di beberapa media seperti televisi, koran dan internet yang selalu memberikan berita yang nuansanya banyak mengandung tindakan kriminal, kejahatan, kasus korupsi dan lainnya. Keterangan tersebut merupakan bukti bahwa moral dan akhlak bangsa Indonesia saat ini telah mengalami kerusakan, nilai-nilai Agama yang mengajarkan adab dan perilaku yang berbudi luhur tidak lagi diindahkan. Bukti lainnya adalah sikap kebersamaan serta persatuan dalam menjalin ukwah persaudaraan sudah luntur, saling serang-menyerang, saling merasa benar dan yang lain salah.

Dalam Islam karakter dasar bagi manusia ini dikenal juga dengan istilah fitrah. Maka penting bagi kita untuk membangun karakter Islami bagi anak sejak dini. Hal ini karena apabila kita mengharapkan terwujudnya karakter anak yang Islami harus dipersiapkan dahulu metode yang berpengaruh terhadap karakter anak. Bahkan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan pun sudah memasukkan pendidikan karakter secara massif ke dalam kurikulum nasional. Guru diharuskan mengintegrasikan unsur PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) dalam setiap pembelajaran di semua mata pelajaran.

Bagi kita orang dewasa mungkin tidak terlalu berat untuk menguatkan kembali karakter Islami sebagai fitrah dalam diri kita. Tetapi tidak bagi anak-anak kita. Kecepatan teknologi, gempuran budaya global, serta akses informasi yang tidak bisa dibatasi lagi menjadikan kesemuanya itu tantangan berat bagi generasi saat ini atau yang lebih dikenal dengan istilah millennial. Mereka dihadapkan pada situasi yang paradoks. Di satu sisi mereka harus menginternalisasi nilai-nilai agama sebagai dasar karakter. Di sisi lain mereka pun harus melawan arus dengan fakta yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut agar tak terjerumus.

Maka Islam sebagai pendidikan utama harus kita perhatikan dan senantiasa kita jadikan dasar penguatan karakter. Lebih jauh, pendidikan adalah faktor penting terhadap eksistensi sebuah peradaban dan tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Di sisi lain, anak adalah generasi penerus ummat. Tidak bisa kita membangun masyarakat yang Islami tanpa mempedulikan pendidikan karakter bagi anak. Di dalam Islam, pentingnya pendidikan terhadap anak punya porsi yang sangat besar. Hanya saja masyarakat kita umumnya masih berkutat pada pendidikan duniawi saja. Padahal ada yang lebih penting untuk kita siapkan bagi masa depan kita dan anak kita bukan hanya dunia tapi juga ukhrawi.

Allah SWT. Berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ………

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu …… ”

Jika pendidikan Islam sudah terwujud sebagai pendidikan yang diprioritaskan untuk mengajarkan nilai dan ajaran agama yang mewujudkan perilaku dan akhlak mulia, maka secara komprehensif akan memberikan hasil yang maksimal dalam mengatasi tindak kejahatan dan perbuatan maksiat yang akhir-akhir ini selalu kita dengar, dan kita sebagai orang tua sudah melakukan langkah preventif agar kita dan keluarga terhindar dari api neraka. Itu sebabnya orang tua menjadi kunci bagi pendidikan karakter anak. Jika anak pada usia dini telah diajarkan nilai-nilai agama melalui pendidikan dari orang tuanya sebagai pendidik utama, maka anak akan memiliki karakter yang baik serta lebih matang untuk menapaki kehidupan di masa yang akan datang.

Lalu bagaimana seharusnya orang tua memberikan pendidikan dasar untuk penguatan karakter anak. Metode apa yang harus diaplikasikan agar terwujudnya karakter Islami bagi anak-anak kita.

Di dalam kitab Tarbiyatul Awlaad Fil Islam karya Syeikh Abdullah Nashih ‘Ulwan disebutkan 5 metode pendidikan yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak. Kelima metode itu adalah:

Pertama,  At-tarbiyah bil qudwah (pendidikan dengan keteladanan)

Keteladanan dalam pendidikan adalah cara yang efektif untuk mempersiapkan anak dari aspek akhlaq, membentuk mental dan karakternya sejak dini. Anak memiliki kecenderungan meniru, mengikuti tingkah laku panutannya dalam hal ini orang tua. Sebagai contoh ketika orang tua menginginkan anaknya untuk melaksanakan shalat berjama’ah di masjid sedangkan orang tuanya tidak pernah melaksanakan shalat berjama’ah di masjid maka anak akan merasa berat untuk melangkah. Sebaliknya, orang tua tidak perlu susah payah menjelaskan tentang hukum dan faedah shalat berjama’ah untuk anaknya manakala orang tuanya rajin berjama’ah ke masjid maka anak akan melihat dan meniru hal tersebut.

Mudah bagi orang tua untuk memberikan satu pelajaran melalui kata-kata kepada anaknya, namun sangat sulit bagi anak untuk mengikutinya ketika ia melihat orang yang memberikan pelajaran tersebut tidak mempraktekkan apa yang diajarkannya. Kita pun diingatkan dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaff ayat 2-3:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ. كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Sejalan dengan ayat di atas, kita sudah diisyaratkan untuk menempuh pendidikan karakter melalui keteladanan nabi Muhammad SAW sebagai panutan agung bagi manusia, sebagai rahmatan lil ‘aalamiin.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)

Oleh karenanya jelaslah bahwa tanpa keteladanan pendidikan karakter menjadi tidak berguna bagi anak dan bagi orang tua justeru mengundang kemurkaan Allah manakala ia tidak menjalankan apa yang ia ajarkan dan perintahkan kepada sang anak.

Kemudian metode yang kedua adalah: At-tarbiyah bil ‘aadah (pendidikan dengan kebiasaan).

Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan karakter anak juga bisa terpengaruh dari lingkungan. Bagaimana anak mendapatkan pengaruh untuk pembentukan karakternya tergantung kebiasaan apa yang dia dapat dari lingkungan. Adapun lingkungan terdekat bagi anak adalah rumah. Jika kebiasaan-kebiasaan yang baik sudah terpatri di dalam lingkungan rumah atau keluarga maka anak akan dengan mudah mengikuti kebiasaan tersebut.

Rasulullah SAW.bersabda:

عَلِّمُوْاأَوْلاَدَكُمْ وَأَهْلِيْكُمُ الْخـَيْرَ وَأَدِّبُـوْهُـمْ

“Ajarkanlah anak-anak dan keluarga kalian kebaikan dan didiklah mereka”

  Dalam konsepsi pendidikan kontemporer, penguatan karakter melalui pembiasaan menjadi satu elemen penting di dalam kegiatan pembelajaran. Dalam istilah lain ada yang menamakannya dengan istilah pijakan. Di kelas seorang guru memulai kegiatan belajar dengan kontrak belajar. Anak-anak dibentuk sedemikian rupa di sekolah dalam bentuk pembiasaan yang berawal dari pijakan-pijakan seperti mengawali kegiatan belajar dengan doa, tertib mengantri di kantin, tepat waktu mengumpulkan tugas, shalat berjama’ah, dan sebagainya. Maka Menurut Abdullah Nashih ‘Ulwan, pendidikan dengan proses pembiasaan merupakan cara yang sangat efektif dalam membentuk iman, akhlak mulia, keutamaan jiwa dan untuk melakukan syariat yang lurus. Sudah seyogyanya orang tua di rumah pun memberikan pijakan untuk kebiasaan yang positif.

Metode yang ketiga yaitu At-tarbiyah bil mau’izhoh (pendidikan dengan nasehat)

Islam mengajarkan kita untuk memberikan pendidikan secara berjenjang. Ketika anak masih belum cukup besar usianya belum tepat pendidikan diberikan dengan metode nasehat. Dia lebih tepat dengan metode keteladanan dan pembiasaan. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia maka anak barulah anak mulai bisa menerima nasehat-nasehat.

Pendidikan karakter melalui nasehat sudah diajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Bahkan dengan tegas baginda nabi mengatakan:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ.

“Agama adalah nasehat…”

Selain itu juga kita bisa lihat di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang menjadikan metode nasehat sebagai dasar bagi jalan menuju perbaikan individu. Sebagai contoh bisa kita lihat bagaimana Luqmanul Hakim mencontohkan metode nasehat dalam pembentukan karakter anak. Disebutkan di dalam surat Luqman ayat 13-17 dimana Luqman memberikan pengajaran kepada anaknya berupa nasehat meliputi keimanan untuk tidak menyekutukan Allah, berbuat baik kepada orang tua, bersyukur kepada Allah, mendirikan shalat, mengerjakan kebaikan dan mencegah keburukan.

Metode yang keempat selanjutnya yaitu At-tarbiyah bil mulaahazhoh (pendidikan dengan perhatian).

Mulaahazhoh bisa bermakna perhatian, pengawasan, controlling. Maksud pendidikan dengan perhatian adalah mengikuti perkembangan anak dan mengawasinya dalam pembentukan karakter. Terlebih deawasa ini dimana pengaruh-pengaruh negatif bisa saja masuk ke dalam diri anak melalui berbagai media. Meskipun mereka sudah menerima pendidikan dalam bentuk keteladanan, kebiasaan serta nasehat tetapi tidak menutup kemungkinan masih bisa terpengaruh karakter yang buruk. Hendaknya orang tua selalu memperhatikan anak. Ketika anak berkomunikasi dan bersosialisai di dunia maya misalnya, maka orang tua juga harus ikut andil dalam memberikan pengawasan di dunia maya. Ketika anak bergaul dengan berbagai macam teman di dunia nyata maka orang tua pun harus tetap mengontrolnya agar tidak terbawa ke jalan yang sesat.

Mengawasi bukan berarti harus membatasi aktifitas anak. Mengawasi berarti memberikan perhatian penuh kepada anak serta mengarahkan ke hal yang positif ketika anak sudah mulai menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Baginda nabi Muhammad SAW. telah banyak memberikan contoh bagaimana memberikan bentuk perhatiannya kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, anak-anaknya, serta ummatnya dengan berbagai macam cara.

Sebagai orang tua sudah seharusnya kita memperhatikan anak-anak kita dalam aspek keimanan, akhlaq, ilmu pengetahuan, perkembangan jasmani, mental anak, dan aspek sosial lainnya.

Adapun metode yang kelima yakni At-tarbiyah bil ‘uqubah      (pendidikan dengan hukuman).

Syeikh Abdullah Nashih ‘Ulwan meletakkan metode ini di urutan terakhir dari kelima metode tersebut. Dalam konteks pengajaran dakwah Islam ini menunjukkan bahwa Islam datang tidak serta merta langsung dengan perang, langsung dengan larangan, langsung dengan ancaman. Tapi Islam mengajarkan kita untuk memberikan pengajaran secara gradual dan berkesinambungan. Begitu juga metode pendidikan tidak bisa menempatkan hukuman di awal memberikan pengajaran. Hukuman merupakan alternatif mekanisme akhir manakala proses keteladanan, kebiasaaan, nasehat serta pengawasan sudah dilaksanakan dan diberikan maka manakala masih ada pelanggaran yang dilakukan anak barulah hukuman diberikan.

Hukuman yang diterapkan oleh seorang guru di sekolah dan orang tua di rumah tentu berbeda secara kuantitas, kualitas dan cara. Oleh karenanya dalam memberikan hukuman kepada anak juga harus dengan bijak sesuai dengan tingkat kematangan anak, pengetahuan, dan kemampuan anak menerima hukuman. Selain itu juga memberikan hukuman pun harus bertahap dari yang ringan sampai yang keras. Dalam hukuman juga terdapat batasan-batasan seperti hukuman dalam bentuk pukulan nabi melarang memukul wajah dan nabi menganjurkan untuk tidak menghukum dalam keadaaan marah karena dikhawatirkan dapat berdampak buruk pada psikologis anak.

Di dalam hadits lain, rasul menyiratkan untuk memberikan hukuman dengan batasan usia yaitu 10 tahun. Sebagaimana tersirat dalam hadits tentang perintah mendidik anak untuk shalat.

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ….

“Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat)…”

Kesimpulan dari uraian khutbah ini adalah bahwa pendidikan Islam dapat mewarnai pendidikan karekter anak, sehingga agama itu benar-benar menjadi bagian dari pribadinya yang akan menjadi pengendali dalam hidupnya di kemudian hari. Untuk tujuan pembinaan pribadi itu, maka pendidikan agama harus diberikan oleh orang tua sejak dini disamping guru serta lembaga pendidikan yang benar-benar tercermin agama itu dalam sikap, tingkah laku, gerak gerik, cara berpakaian, cara berbicara, cara menghadapi persoalan dan dalam keseluruhan pribadinya. Pendidikan Islam bagi kehidupan manusia harus menjadi pijakan hidup serta Al-Qur’an dan hadits sebagai pedomannya. Pendidikan karakter berbasis agama yang baik tidak saja memberi manfaat bagi anak, akan tetapi akan membawa keuntungan dan manfaat terhadap masyarakat lingkungannya bahkan masyarakat ramai dan umat manusia seluruhnya. Jelaslah, bahwa agama sangat besar manfaatnya bagi kehidupan manusia terutama bagi yang menjalankan agama tersebut dengan baik.

Mendidik dengan keteladanan, anak dapat memperoleh sifat-sifat yang baik. Mendidik dengan kebiasaan, anak akan mendapatkan amal-amal yang baik. Mendidik dengan nasehat, anak mendapatkan ketenangan melalui kata-kata. Mendidik dengan perhatian, anak menjadi percaya diri dan termotivasi untuk selalu berbuat baik. Mendidik dengan hukuman, anak dapat tercegah dari akhlaq yang buruk dan sifat tercela.

Pendidikan karakter itu akan mudah berhasil jika diberikan sejak kecil dan sulit akan berhasil jika sudah dewasa. Seperti dahan yang kecil akan mudah dibentuk dan diluruskan, tidak seperti pohon kayu yang sudah tumbuh menjadi besar.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. At-Taubah [9]: 105)

 

*Tulisan ini merupakan naskah khutbah Jum’at yang saya susun untuk diterbitkan dalam Buku Kumpulan Khutbah Jum’at bersama PP-IKAA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight + 9 =