Pada suatu kesempatan sesi sharing training abuabbad.com ada seorang peserta bertanya, “Bagaimana caranya membagi tugas antar lintas posisi di sekolah agar tidak tumpang tindih”. Spontan saya awali jawaban peserta tersebut dengan joke, “kalau antar lintas posisi masih gampang bu, yang susah kalau antar lintas Sumatera kayak bis ALS”. Para peserta tertawa sejenak mendengar jawaban singkat saya. Maksud bagi penanya adalah antara posisi di yayasan dengan di sekolah karena pada saat itu kita sedang membahas manajemen sekolah unggul. Kebetulan penanya sama seperti saya yang mengajar di sekolah swasta. Yayasan dan sekolah, dua bagian yang berbeda namun satu kesatuan. Pada beberapa sekolah seringkali tupoksinya menjadi rancu karena tumpang tindih tadi.

Saya sampaikan lebih lanjut kepada peserta bahwa pembagian tugas merupakan hal penting dalam semua lini organisasi. Bukan berarti kita tidak menghendaki kerjasama. Ini seringkali disalah artikan bagi sebagian orang. Kesannya kalau kita berbicara pembagian tugas atau istilah kerennya Jobdes (Job Description) maka kita tidak mau membantu jobdes yang lain. Bukan seperti itu. Jobdes diperlukan untuk memperjelas arah kerja suatu bidang atau departemen. Dan ketika perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan mengalami kendala maka evaluasi dilaksanakan terlebih dahulu. Jangan dipercepat, baru saja perencanaan sudah dilakukan evaluasi. Itu artinya perencanaannya belum maksimal.

Banyak sekali model-model manajemen untuk organisasi. Bagi sebagian orang yang bekerja di perusahaan atau di bidang bisnis mungkin sudah tidak asing lagi mendengar istilah tingkatan-tingkatan dalam manajemen. Dari mulai top management, middle management, dan seterusnya. Seiring perkembangan zaman model tingkatan manajemen ini pun sudah diterapkan di beberapa lembaga pendidikan. Beberapa sekolah banyak yang menerapkan model ini khususnya sekolah swasta dan yang berafiliasi pada lembaga konsultan. Lalu bagaimana membedakan antara tingkatan manajemen tersebut.

Kalau kita merujuk kepada literatur manajemen maka setidaknya kita dapati tentang tingkatan manajemen tersebut diantaranya:

  • Manajemen tingkat atas (Top Management).
  • Manajemen tingkat menengah (Middle Management)
  • Manajemen tingkat pertama (Junior Management)

Top Management biasanya meliputi Direktur Utama, Presiden Direktur, atau sebagainya. Kompetensi yang dibutuhkan pada tataran konsep, komunikasi, manajemen global, dan manajemen waktu. Bila kita terapkan ke sekolah (swasta) maka domain ini merupakan domain Yayasan. Sebagai owner sekolah yayasan juga mempunyai peran inti dalam mengatur dan mengelola. Namun seringkali peran itu menjadi tidak efektif manakala tak didasari dengan pembagian tahapan manajemen sesuai situasi dan kondisi sekolah.

Middle Management biasanya terdiri dari manajer, kepala divisi atau departemen, dan sebagainya. Sebagian kompetensi yang diperlukan yaitu konseptual, komunikasi (persuasif), pengambilan keputusan, manajemen konflik dan teknikal. Bila kita melihat beberapa posisi di atas maka pada ranah sekolah sebagian masuk dalam middle management dan sebagian juga berada pada domain yayasan. Pada tataran sekolah setidaknya posisi Kepala Sekolah dan Wakil masuk ke dalam domain ini. Mengapa saya tambahkan pada kompetensi komunikasi yaitu persuasif?.

Berdasarkan pengalaman saya sharing dengan beberapa konsultan pendidikan dan diskusi dengan beberapa sekolah pada sesi training abuabbad.com banyak dari mereka yang merasa serba salah berada pada posisi ini. Pertama sebagai pimpinan di sekolah dia harus bisa menjaga stabilitas kerja bagi bawahannya (read: guru). Namun disisi lain mereka juga harus bisa menerjemahkan visi yayasan sebagi top management. Problemnya seringkali konsep dari top management berbenturan dengan junior management atau pelaksana teknis di lapangan. Dalam keadaan demikian maka posisi middle management harus mampu mengkomunikasikan secara persuasif baik kepada top management maupun junior management. Selain itu juga middle management harus menguasai seluk beluk pengambilan keputusan beserta resiko yang akan terjadi. Sekali lagi, karena posisi ini middle maka bagaimana tekniknya menjalankan kebijakan agar ke atas menjadi proporsional dan ke bawah menjadi aktual.

Junior Management biasanya terdiri dari pelaksana teknis (pekerja) di tingkat bawah pada umumnya. Kalau di perusahaan sebut saja karyawan. Maka ketika kita terapkan di sekolah posisi ini ada guru, staff, dan lain sebagainya. Kalau pada middle management seringkali merasa serba salah menyikapi kontradiksi konsep dan aktualisasi maka pada junior management mereka tidak merasa terlalu terbebani dengan konsep secara global. Sebagai pelaksana teknis di lapangan tentu pada tataran ini mereka sangat menguasai teknis pelaksanaan kebijakan karena pengalaman mereka. Maka kompetensi yang mereka miliki adalah kompetensi tekhnis. Ketika mereka tidak bisa atau mendapati kendala tekhnis untuk melaksanakan kebijakan top management maka tidak bisa serta merta hal itu disampaikan langsung. Middle management-lah yang harus bisa meramu kebijakan tersebut agar relevan dengan kondisi real di lapangan.

Apapun istilahnya manajemen dalam sebuah lembaga pendidikan tentu tidak bisa disamakan mutlak seperti perusahaan. Namun beberapa konsep yang sesuai dengan keadaan sekolah bisa dijalankan dengan tujuan untuk memudahkan jalannya roda organisasi dan semua komponen berjalan dengan efektif dan efisien. Secara global kita ketahui bahwa yang terpenting dalam hal manajemen adalah empat pilar yaitu perencanaan, pengaturan, pelaksanaan, pengawasan. Ketika empat pilar tersebut sudah berjalan dengan baik maka apapun istilahnya tentu tidak akan mengalami kendala yang signifikan. Namun sebaliknya apabila keempat pilar tersebut tidak berjalan optimal, perencanaannya hanya sepintas lalu, pengaturannya pun tak maksimal maka pada pelaksanaannya akan mengalami berbagai kendala.

Kesemua komponen dalam manajemen harus menyamakan persepsi terlebih dahulu, jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan dan menjadikannya sebagai sebuah kebijakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *