Dalam sejarah dakwah Islam kita memiliki pengalaman sejarah panjang dan penuh hikmah bagaimana agama ini meraih kemenangan, baik dari segi peradaban maupun transformasi keummatan. Demikian juga pada beberapa masa akhirnya juga mengalami krisis, konflik hingga perpecahan yang menghasilkan kekalahan. Dari segi kemenangan agama Islam mengalami proses perjuangan yang tidak mudah. Belum lagi kalau kita runut dari mulai proses kelahiran nabi Muhammad SAW hingga masa dakwahnya. Kemenangan yang diraih hingga diabadikan dalam banyak surat di dalam Al-Qur’an. More »

Tim Marawis dan gema Shalawat

Tim Marawis dan gema Shalawat Maulid Nabi Muhammad

Bulan Rabi’ul Awal termasuk bulan yang meriah bagi ummat muslim. Setidaknya berbagai kebiasaan, adat, budaya dan sebagainya mewarnai kehidupan di lingkungan kita dalam rangka maulid nabi Muhammad SAW. Pengajian-pengajian umum dan tabligh akbar pun silih berganti antar masjid, musholla dan majlis ta’lim. Momentum maulid nabi Muhammad SAW bukan hanya untuk seremonial namun jauh dari itu harus dijadikan sebagai basis spiritual kita dalam meneladani sikap, perilaku dan akhlaq nabi Muhammad SAW. Banyak ayat yang menjelaskan betapa pentingnya dan harusnya kita menjadikan nabi Muhammad sebagai suri tauladan dari segala aspek. More »

Mari mengenang jasa guru-guru kita…

Geliat kebanggaan dengan profesi guru itu nampak setiap masuk tanggal 25 Nopember sebagai HUT (PGRI) atau Hari Guru dimana banyak sekolah dan guru-gurunya menjalankan upacara untuk menghormati jasa para guru. Sebagian berseragam khas batik paduan warna hitam putih (yang katanya melambangkan tinta dan buku) memenuhi lapangan dan arena-arena sekolah untuk melaksanakan upacara. Apalagi jaman sekarang guru bukanlah pekerjaan yang dipandang sebelah mata seperti dulu. “Jangan nikah sama guru, kamu nanti susah, mau dikasih makan apa nanti…”, “jangan jadi guru, gajinya kecil, cari aja pekerjaan yang lain yang lebih enak….”. Begitulah kira-kira mendengar cerita beberapa guru-guru yang sudah lama mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Statement seperti itu sering muncul di jaman dahulu dimana profesi guru masih dipandang sebelah mata. Determinasinya simple, karena penghasilannya kecil. Begitulah alasan orang tua dulu kalo berpesan kepada anak gadisnya yang mau menikah agar tidak dengan lelaki yang berprofesi sebagai guru, atau kepada puteranya yang ingin mencari pekerjaan untuk tidak bekerja sebagai guru. Lalu, kenapa saya mau jadi guru? More »

Mudik bagi rakyat Indonesia sudah seperti ritual yang harus dijalankan setiap kali lebaran atau hari raya Idul Fitri. Tak peduli tua-muda, miskin-kaya, jauh-dekat. Ketika menjelang idul fitri maka arus mudik langsung terpantau dari berbagai sudut media. Ada yang menggunakan kendaraan umum semisal bus, kereta, pesawat dan juga ada yang memilih menggunakan kendaraan pribadi. Bila ditabulasikan tujuan dari setiap pemudik hanya satu yaitu kembali ke daerah asal untuk menjenguk orang tua atau silaturahim. Mudik menjadi momen berbahagia sekaligus berbagi kebahagiaan kepada sanak saudara, kari kerabat dan tetangga di kampung halaman yang dalam rentang waktu cukup lama mereka berpisah secara fisik karena merantau dalam rangka bekerja dan lain sebagainya. Oleh karenanya tak jarang bagi para pemudik menyiapkan perbekalan yang cukup banyak untuk keluarga di kampung halaman tercinta. Sebab setelah lama tak jumpa ingin memberikan oleh-oleh dari hasil yang didapatnya selama bekerja di perantauan. More »

ilustrasi: http://holikulanwar.blogspot.com

Hikmah agung datangnya Islam adalah sebagai transisi dari masa kegelapan (dark zone) menuju masa terang benderang, masa penuh cahaya. Jaman jahiliyah yang banyak dikatakan sebagai jaman kegelapan dari tauhid diterangi dengan cahaya tauhid yang bersumber dari Islam. Selain itu, dengan kebesaran-Nya Allah ciptakan alam semesta berpasang-pasangan, ada siang dan malam, ada langit dan bumi, maka ada juga gelap dan terang. Kegelapan menampilkan makna hitam tak ada cahaya dan terang menunjukkan makna harapan setelah kegelapan.

Sebagai orang beriman Allah menjamin pertolongan transisi dari kegelapan menuju cahaya sebagaimana disinyalir dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 257:

….اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

Artinya: “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)”. More »

Kolom hikmah kali ini terinspirasi dari kejadian di skala nasional dimana melibatkan dua putera pejabat negeri yang sedang ramai diperbincangkan. Tak penting apa problemnya benar atau salah, tapi yang hendak disuguhkan disini adalah kontekstualisasi dari potret lapisan-lapisan dalam struktur masyarakat kita yang secara tidak langsung masih merasakan diferensiasi perlakuan dalam segmen masyarakat. Penulis kemudian membaca satu tulisan yang juga sinkron dengan hikmah ini dalam blog http://www.timur-angin.com dengan judul Balada Dua Putera Pejabat. Dua putera yang dimaksud adalah Muhammad Rasyid Amrullah Rajasa (putera Menko Perekonomian Hatta Rajasa) dan Eddhie Baskoro Yudhoyono (putera Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Dari namanya jelas sudah terkandung makna korelasi nasab dengan nama sang ayah.

Lalu apa hikmahnya? Prestise dengan menyandang nama besar ayah (keluarga besar) jangan dijadikan sebagai alat diferensiasi status sosial atau bahkan ketimpangan hukum maupun ekonomi. Dari dua kejadian di atas, yang pertama adalah kelonggaran hukum yang diterima Rasyid setelah dipastikan sebagai tersangka kasus kecelakaan maut yang menewaskan dua orang namun masih bisa melenggangkan diri tanpa berdiam di balik jeruji besi apapun alasannya. Dan yang kedua tentang berita di media ramai memperbincangkan kelakuan Ibas (panggilan Eddhie Baskoro Yudhoyono) yang terkesan seenaknya datang saat rapat paripurna bukan melalui pintu utama kemudian presensi diantarkan oleh paspampres/pihak sekretariat DPR. Tidak hanya sampai disitu, setelah Ibas menanda tangani presensi yang diantarkan lalu dia pun pergi tidak menghadiri rapat paripurna dengan alasan sibuk. More »

Saya kira kita akan sampai pada konsensus bahwa hari-hari ini merupakan hari yang sangat merepotkan. Bagi pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, dan profesi lainnya yang terhalang aktivitasnya oleh banjir. Ya, banjir tahun ini (2013) disinyalir bahkan melebihi banjir 5 tahunan pada tahun 2002 dan 2007. Parahnya banjir kali ini ditambah dengan jebolnya Kanal Banjir Barat sehingga ada joke yang mengatakan ini sesuai dengan sila kelima dari butir pancasila yang berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Semua warga hampir terkena banjir bahkan pejabat (menteri), kantor pemda, kantor pemerintahan hingga istana presiden (termasuk pak presiden) tak luput dari kebanjiran.

Beberapa media meliput non stop dari mulai breaking news, headline news, sampai liputan live dari lokasi banjir komplit beserta para korban banjir. Hampir semua stasiun televisi memampang kalimat utama seperti “Jakarta Darurat Banjir”, “Banjir Kepung Jakarta”, “Ibu Kota Menjadi Kota Banjir”, dan yang lebih ekstrem adalah “Jakarta Tenggelam”. Dahsyatnya banjir yang juga menggenangi jantung ibu kota di bundaran Hotel Indonesia (HI) ini juga dirasakan di berbagai daerah sekitar (Jabodetabek). More »

Sudah lewat sebulan 2 hari saya menunda tulisan yang harus dikirimkan kepada panitia Teacher Writing Camp (TWC) #1 untuk dikolektifkan dan rencananya akan dibukukan bersama tulisan-tulisan dari semua peserta TWC #1 yang diselenggarakan di Wisma UNJ pada tanggal 8-9 Desember 2012 yang lalu. Sewaktu mendengar rencana itu saya cukup senang dan excited, karena setidaknya tulisan saya bisa dibukukan walaupun berisi kolaborasi kumpulan tulisan atau istilah kerennya “Bunga Rampai”. Tak mengapa untuk langkah awal, seperti kata pak Ukim Komarudin salah satu pemateri pada TWC #1, “menulis bisa sendiri bisa juga berpartner”. Dalam hal ini partnernya banyak yaitu semua peserta TWC#1 sehingga akan melahirkan banyak warna dan pengalaman yang bisa diraih. Tentu peserta yang lain pun senang dengan rencana menerbitkan buku ini.

Hari terus bergulir saya masih belum merampungkan tulisan, saya lihat sudah banyak peserta yang mengirimkan tulisan dan semuanya saya baca bagus-bagus tulisannya. Hal tersebut bisa saya lakukan karena Omjay (penggagas acara TWC#1) selalu memposting tulisan peserta yang akan dibukukan serta mengirimkan juga ke email saya. Semangat pun makin menggebu namun tetap belum memulai untuk menulis apalagi sudah masuk waktu liburan yang disibuki kegiatan silaturahim, kesana kemari dan lain-lain namun itu pun tidak akan saya jadikan alasan. Menulis itu bisa kapan saja, dimana saja, begitulah salah satu ucapan pak Dedi Dwitagama (pemenang guraru award 2012) yang sering disampaikan saat mengisi materi kepenulisan. More »

Jum’at kali ini (04/01/13) saya shalat di masjid yang letaknya dekat tempat saya tinggal. Beruntunglah karena masih libur sehingga saya bisa jum’atan serta silaturahim dengan tetangga yang lain. Maklum kalau sudah aktif masuk kerja sudah dipastikan saya tidak bisa jum’atan bareng warga karena tidak memungkinkan dengan keberadaan saya di kantor, kecuali jika saya pas kebagian jadwal khatib (menyampaikan khutbah). Khatib kali ini seorang ustadz muda yang Ramadhan kemarin saya sempat berjama’ah juga dengan beliau saat shalat tarawih di musholla kavling.Menariknya tidak seperti khatib-khatib pada umumnya yang menyampaikan materi khutbah tentang tahun baru karena Jum’at ini termasuk Jum’at pertama di bulan pertama (Januari) di awal tahun baru 2013. Sang khatib justeru menyampaikan tema tentang “Maut” (kematian).

Dari awal mukaddimah khatib saya sudah bisa menerka tema itu karena ayat yang dibacakan tentang tujuan adanya kehidupan dan kematian adalah untuk melihat siapa yang amalnya paling baik (Q.S. Al-Mulk ayat 2). Hal ini seakan korelatif dengan situasi dan kondisi dimana beberapa hari di awal tahun baru ini banyak tetangga yang mengalami kematian anggota keluarganya. Lebih kontekstual lagi karena pada level isu nasional baru saja ada kejadian seorang anak pejabat menteri di negeri kita ini mengalami kecelakaan yang berakibat hilangnya nyawa 2 orang. Mungkin karena itulah khatib menyampaikan tema yang sangat kontemplatif (perenungan) tersebut. Selain itu juga sebetulnya kematian memang hal yang harus selalu kita renungkan di akhir atau awal tahun, meski setiap tahun baru kita bergembira karena umur kita juga baru padahal sejatinya umur kita kuotanya terus berkurang. More »