Semangat hari guru tahun ini agak berbeda karena menteri pendidikan dasar dan menengah (Mendikdasmen) kita pak Anies Baswedan, Ph.D meminta kita semua (bukan hanya guru) untuk flashback (meminjam istilah anak jaman sekarang). Flashback dalam artian mengenang jasa guru-guru kita, datangi mereka, cium tangan mereka, dan ucapkan terima kasih kepada mereka. Dengan tangan-tangan guru-lah kita bisa jadi seperti sekarang ini. Tahun lalu saya pun menulis sebuah refleksi hari guru yang mana tulisan itu saya dedikasikan untuk guru SD saya dulu (tulisannya disana). Ya, memang guru sejatinya yang banyak berperan menjadikan kita mengerti akan banyak hal. Mereka mendidik, mengajarkan dan membimbing kita menuju arah cita-cita yang kita inginkan. More »

Mari mengenang jasa guru-guru kita…

Geliat kebanggaan dengan profesi guru itu nampak setiap masuk tanggal 25 Nopember sebagai HUT (PGRI) atau Hari Guru dimana banyak sekolah dan guru-gurunya menjalankan upacara untuk menghormati jasa para guru. Sebagian berseragam khas batik paduan warna hitam putih (yang katanya melambangkan tinta dan buku) memenuhi lapangan dan arena-arena sekolah untuk melaksanakan upacara. Apalagi jaman sekarang guru bukanlah pekerjaan yang dipandang sebelah mata seperti dulu. “Jangan nikah sama guru, kamu nanti susah, mau dikasih makan apa nanti…”, “jangan jadi guru, gajinya kecil, cari aja pekerjaan yang lain yang lebih enak….”. Begitulah kira-kira mendengar cerita beberapa guru-guru yang sudah lama mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Statement seperti itu sering muncul di jaman dahulu dimana profesi guru masih dipandang sebelah mata. Determinasinya simple, karena penghasilannya kecil. Begitulah alasan orang tua dulu kalo berpesan kepada anak gadisnya yang mau menikah agar tidak dengan lelaki yang berprofesi sebagai guru, atau kepada puteranya yang ingin mencari pekerjaan untuk tidak bekerja sebagai guru. Lalu, kenapa saya mau jadi guru? More »