Sederet nomer baru masuk ke dalam panggilan Hp saya yang terletak di meja kerja. Agak lama saya angkat karena mengamati dulu nomernya, meski begitu saya tidak juga mengenalinya dan akhirnya saya angkat. Terdengar suara yang sebetulnya tidak asing bagi saya. “Assalamu’alaikum.. Ustadz Bhayu ini H. Ghofur, SMP Attaqwa Pusat”. Subhanallah… Saya tersentak. Baru saja saya mencoba menelisik untuk mengenali suara khas yang lembut itu ternyata langsung dijawab oleh sang penelpon. Seakan tak percaya, ada gerangan apa beliau menelepon saya. Ya, H. Abdul Ghafur Rouf, M.Pd.I lengkapnya. Beliau guru saya sewaktu di Pondok Pesantren Attaqwa Pusat Ujungharapan Bekasi.

Tradisi kami di pondok memanggil semua pengajar dengan sebutan “guru”. Nah, guru Ghafur merupakan guru yang pertama kali mengajarkan saya bahasa arab di tingkat pertama (kelas 1 tsanawiyah). Melalui suara lembutnya beliau dengan sabar menuntun kami sekelas dengan metode klasikal memperkenalkan kalimat demi kalimat dalam bahasa arab. “Hadzaa kitaabun, dzaalika qolamun”, begitu yang saya ingat sampai sekarang. Selain mengajar bahasa Arab guru Ghafur juga menjabat sebagai kepala Tata Usaha (TU). Dari memo beliau lah para santri yang memiliki catatan tunggakan pembayaran SPP bisa ikut ujian. Beliau masih cukup mengenal saya meski sudah lama tidak bertemu mungkin bukan hanya karena nilai bahasa arab saya dulu sering dapat mumtaz atau jayyid jiddan, tapi juga karena saya sering minta memo beliau kalau mau ujian. Heee….

Pertemuan saya dengan guru Ghafur kembali terjadi secara resmi baru beberapa bulan lalu ketika rapat dinas. Kebetulan guru Ghafur baru saja dilantik menjabat Kepala SMP Attaqwa Pusat menggantikan pak H. Mahfudz. Saat bertemu dalam rapat dinas kepala sekolah se-Sub Rayon 02 Kab. Bekasi saya langsung menghampirinya dan tak lupa cium tangan. Masih dalam keadaan tangan dijabat erat beliau langsung menebak, “Bhayu ya…?”. “Iya guru bener”, jawab saya kontan. Tak ada kebahagiaan bagi seorang murid melainkan ketika bertemu guru yang sudah lama tidak berjumpa tapi masih mengenali kita dengan jelas. Itulah yang saya rasakan saat itu. Alhamdulillah sekarang bisa sering ketemu lagi sama guru, paling tidak saat rapat dinas.

Guru Ghafur menyampaikan sambutan

Kembali ke telepon tadi, guru Ghafur bermaksud ingin mampir bersama-sama guru SMP Attaqwa Pusat ke sekolah tempat saya mengabdi di SMPI Mentari Indonesia. Sebelumnya saya memang sudah sempat sharing juga tentang pengalaman di sekolah kepada guru Ghafur saat pengawas sekolah mengadakan workshop untuk sekolah binaannya di lingkungan sub rayon 02 dari program USAID Prioritas yang tuan rumahnya sekolah kami SMPI Mentari Indonesia. Nah, rupanya kali ini guru Ghafur ingin mengajak guru-guru juga untuk melihat sekolah kami. “Kalo saya aja yang tau kan masih kurang, makanya saya ajak guru-guru biar tau juga. Ini yang saya ajak guru-guru yang menjabat di sekolah”. Mendengar pengakuan itu speechless deh saya….

Bukan tanpa alasan kalau saya speechless. Saya merasa masih minim pengalaman mengajar dan jauh jarak pengabdian dibanding beliau justeru sekarang mau dikunjungi untuk sharing program-program sekolah. Saya langsung meng-iya-kan dengan menanyakan sebelumnya jam berapa akan datang karena saya akan ada agenda keluar sekolah dulu. Masih melalui telepon akhirnya ditunjuklah jam 11.

Sekembalinya saya di kantor selang beberapa menit pak satpam memberitahu kalau tamu sudah datang sekitar 10 orang dalam 3 mobil. Saya pun meminta Wakasek, Ust. Afau yang juga alumni Attaqwa untuk menerimanya terlebih dahulu di ruang MILC (Mentari Indonesia Learning Center) sambil menunggu saya menyelesaikan beberapa file untuk diprint. Setibanya saya di ruang MILC langsung berbincang-bincang dengan beberapa guru. Suasana keakraban diantara kami dalam obrolan berjalan santai. Beberapa diantaranya baik guru laki maupun yang perempuan memang saya sudah kenal dan pernah juga ketemu di beberpa acara. Salah satunya wakilnya guru Ghafur yang juga puteri Kyai Amien (pimpinan Yayasan Attaqwa Pusat) yaitu Ustadzah Hj. Salwa.

Ust. Afau membuka pertemuan dengan kalimat tahniah disusul saya mewakili tuan rumah. Tak banyak yang saya sampaikan hanya sharing beberapa pengalaman saya mengembangkan model program di sekolah selama kurang lebih 6 tahun. Setelah itu barulah guru Ghafur mengampaikan sambutannya.

“Sebetulnya kita mah kagak mo ngerepotin, cuma mampir aja. Ini mah resmi banget jadinya ya…”, ucapnya sambil disertai tawa diantara kami. Beliau menyampaikan keinginannya untuk memajukan program-program di sekolah sampai dengan program unggulan khususnya di masa kepemimpinan beliau saat ini. Dengan sharing inilah diharapkan ada inspirasi dan masukan. Obrolan pun dilanjutkan sambil berkeliling sekitar lingkungan sekolah. Beberapa guru ada yang langsung menuju ruangan KBM ditemani oleh Mis Kiya (Azkiya Banata) penanggungjawab program entrepreneurship hydroponik dan tanaman botani. Ust. Afau pun turut menemani beberapa guru yang lain melihat ruang seni dan produk entrepreneur.

Saya masih sambil berbincang dengan guru Ghafur tentang apa saja yang bisa kita majukan dalam dunia pendidikan pada umumnya. Obrolan makin seru ketika saya mencoba mengingat masa dimana belajar di pondok dengan penuh suka duka bersama beliau. Hingga tak terasa adzan zuhur berkumandang dari musholla sekolah. Pertemuan kami pun terpaksa selesai karena rombongan guru ghafur akan melanjutkan agenda makan siang ke rumah makan khas Bekasi di Harapan indah. Dengan mengucapkan terima kasih sekali lagi atas kunjungannya saya menyalami rombongan para guru. Saat itu ternyata di salah satu mobil nampak seorang guru saya juga sedang menunggu di dalamnya yaitu (guru) Drs. H. Murdani Wardi. Saya pun bergegas menghampirinya. Beliau menyampaikan pesan ke saya untuk terus mengembangkan program yang sudah dijalankan.

Dan saya baru tahu dari guru Ghafur rupanya kedatangan rombongan ini justeru awalnya merupakan inisiasi dari guru Murdani. “Saya mantau aja (kegiatan) ente di facebook, bagus… terus kembangin. Insya Allah sukses berkah..”, ujarnya sambil senyum. Saya pun tak lupa mohon doanya selalu sambil menanyakan kenapa guru Murdani tidak ikut ke ruangan. Kami memang berteman di facebook, maka itu guru Murdani sering melihat beberapa kegiatan saya dan ternyata beliau sampaikan ke guru Ghafur untuk sharing dengan saya. Aaahh… Speechless lagi untuk kedua kalinya saya.

Di akhir percakapan guru Ghafur menceritakan kalau sebelum ke Mentari Indonesia rombongan mulanya silaturahmi ke kediaman pimpinan Yayasan Attaqwa KH. Moh. Amien Noer, MA. Kedatangannya dalam rangka memohon arahan untuk mengawali semester 2 ini. Masih melanjutkan ceritanya menurut guru Ghafur Kyai Amien sempat menyampaikan perbincangan tentang penguatan nilai-nilai Islam.

“Di Eropa itu kagak ada Islam (secara mayoritas), tapi nilai-nilai Islam (terasa) ada disana”, ucap guru Ghafur menirukan penjelasan Kyai Amien. Kemudian dengan nada optimis beliau melanjutkan, “Nah.. Sama juga disini (Mentari Indonesia) kagak ada Attaqwa tapi nilai-nilai Attaqwa (terasa) ada disini”, ujarnya sambil menatap ke arah saya dan ust. Afau. Rombongan pun mulai memasuki mobil satu per satu.

Memang secara simbol tidak ada Attaqwa disini, alumninya pun hanya saya dan ust. Afau. Tapi nilai-nilai yang ditanamkan Attaqwa sedikit banyak pasti terasa disini. Baik dari segi ibadah, organisasi, program kesiswaan, apalagi pramuka yang sejak lama pelatihnya pun kami datangkan dari Attaqwa. Harapan kami pun secara tersirat sama dengan semangat pesan pahlawan nasional pendiri Ponpes Attaqwa, Almarhum Almaghfurlah KH. Noer Alie yaitu mencetak generasi-generasi yang bener, pinter, terampil. Semoga, aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *